Friday, 27 April 2012

INTERIOR: Rooster House


Sejujurnya agak berdebar ketika seorang rekan mengajak saya untuk mengerjakan project menulis artikel mengenai arsitektur ini. Sepertinya kurang "gue banget" begitu, hahaha. Namun setelah banyak bertanya kepada seorang teman yang memiliki latar belakang di bidang arsitektur, akhirnya artikel ini selesai dan dipublikasikan juga :) Sejujurnya bagian tersulit dari menulis tentang arsitektur bukan karena pengetahuan saya yang minim tentang arsitektur, melainkan mencari referensi rumah tinggal yang sesuai dengan kriteria yang diingankan dan mendapatkan izin dari pemiliknya. Selamat membaca, semoga tidak mengecewakan Anda!



Terimakasih banyak untuk Mas fotografer @WariArtiko, yang sudah mengajak saya berkolaborasi mengerjakan artikel ini dan Mas arsitek @ahiskaghulam yang membantu saya memahami sedikit tentang arsitektur :)

COVER STORY: Annisa Pohan

Another cover story, written by me....



Sunday, 8 April 2012

TANDA BACA: Ketika Sebuah Titik Berarti Segalanya

Kira-kira seminggu yang lalu, pada suatu dini hari saya terbangun dan refleks mengecek timeline Über-social. Suatu kebiasaan yang saya lakukan setiap kali terbangun pada jam-jam dimana saya belum seharusnya bangun. Kemudian sambil membaca sepintas, saya meretweet twit seorang teman saya. Begini tulisannya,

@mariaanatasiaa: kalau kata dalam sms-nya tidak banyak, disertai dengan beberapa titik di belakangnya, maksudnya apa ya?

Saya meretwitnya karena merasa senasib. Maria—nama teman saya itu—bingung karena padanan tanda baca pada pesan singkat yang ia terima. Nah, saya sendiri seringkali juga merasakan hal yang sama: saya suka memikirkan maksud (perasaan / mood) pengirim teks dengan menganalisa pilihan kata, penggunaan huruf, dan padanan tanda baca yang ia gunakan. Tidakah kamu sering melakukannya juga? Mungkin supaya tidak bingung, saya akan menggunakan contoh kasus sebagai berikut.

Misalnya begini, kamu mengirim sms atau bbm kepada temanmu yang isinya kira-kira seperti ini:

“Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?”

Lalu temanmu membalasnya dengan kata “oke”. Selintas percakapan tersebut terasa sepele dan biasa-biasa saja. Namun bagi saya pribadi, ada perasaan yang berbeda saat saya membaca balasan “oke” dari teman saya itu dengan cara penulisan yang berbeda.
A
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: oke 

B
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: okee / oke!

C
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: oke…
Ketiga contoh percakapan di atas sebenarnya mempertanyakan hal yang sama dan memberikan jawaban yang kurang lebih maksudnya juga sama, yakni si orang Y menyetujui permintaan si orang X. Tapi jika saya menjadi orang X, perasaan saya setalah menerima jawaban dari si orang Y akan berbeda tergantung bagaimana iya menuliskan jawaban “oke” tersebut. Misalnya jika jawaban yang diberikan Y seperti pada contoh A, maka saya akan berpikir bahwa “Y setuju melakukan permintaan X, tetapi dia saat ini sedang sibuk sehingga menjawab permintaan X dengan sekenanya saja, mungkin juga sebenarnya permintaan X agak mengganggu Y meskipun ia tetap menyetujuinya”. Hal ini berbeda ketika Y memberikan jawaban seperti pada contoh B, maka saya akan berpikir seperti ini, “Y menyetujui permintaan X karena baginya it’s not a big deal, tidak merepotkan sehingga dia mengatakannya dengan semangat, ikhlas, atau dengan kata lain ‘no problem!’” tentu saja jika ia menjawab dengan cara menjawab tipe B ini si X akan merasa lebih lega dan tidak merasa sungkan kepada Y. Sedangkan jika Y menjawab dengan cara seperti pada contoh C, maka mungkin sebagai X saya akan merasa bingung, “apakah sebenarnya Y menyetujui permintaan X dengan ikhlas? Atau sebenarnya ia merasa ragu untuk membantu X namun tidak enak mengutarakannya? Apakah permintaan X terlalu menyulitkan bagi Y?” jujur saja tanda titik-titik di belakang kalimat “oke” pada contoh C bagi saya mengandung kegamangan.

Ya, semuanya hanya karena tanda baca. Mungkin saya yang over think soal penggunaan  tanda baca untuk menganalisa makna dari suatu bahasa tekstual ini. Namun fenomena ini sungguh nyata. Mungkin hal ini tidak kamu rasakan ketika kamu hanya menanyakan hal yang sepele kepada orang yang juga kamu anggap sepele. Namun bagaimana jika masalah tanda baca ini muncul ketika kamu sedang saling berkirim pesan dengan pacar atau orang yang sedang kamu taksir? Percaya atau tidak, penggunaan tanda baca yang tidak tepat acap kali membuat orang salah menangkap makna dari pesan tersebut (dan berujung pertengkaran, atau minimal...... kegalauan). 


Memang saya tidak pernah melakukan survei, baik yang kecil apalagi yang besar, menyangkut persoalan ini. Namun beberapa kali saya mendengar keluhan teman yang kira-kira isinya begini “Sumpah ya, kok dia bales bbm gue singkat-singkat banget? Mana nggak pakai tanda baca sama sekali....” atau dalam versi yang berbeda, “Ini orang maksudnya apa sih?  Kenapa jadi marah-marah ke gue?” sebuah keluhan yang muncul hanya karena mereka membaca sebuah pesan dengan tanda baca tertentu. Padahal pernahkah kamu juga berpikir bahwa kita tidak bisa memastikan seseorang itu merasa marah, sedih, senang, suka, atau benci hanya karena ia mengirim pesan dengan tanda baca tertentu atau tidak menggunakan tanda baca sama sekali. Ingatkah kita, bahwa bahasa tekstual sebenarnya tidak memiliki nada? Namun kemudian kita dapat mengimajinasikan nada bicara tertentu karena adanya penggunaan tanda baca tersebut. Asumsi-asumsi yang muncul begitu saja di kepala si penerima pesan (addressee), karena tanda baca yang digunakan si pengirim pesan (addresser). Mungkin inilah yang disebut the power of tanda baca ya!

Di sisi lain, bisa aja pemilihan tanda-tanda baca oleh si pengirim pesan dilatarbelakangi oleh hal yang sama sekali berbeda dengan dengan apa yang penerima pesan pikirkan, misalnya sebatas “memang begitu gaya smsnya”, “dia lagi males ngetik panjang aja”, “dia lagi buru-buru”, “dia tidak tahu tanda baca yang dia gunakan tidak tepat / salah”, “typo”, atau sesederhana “emang tuh orang bego aja dalam berbahasa”. See? Ada banyak probabilitas mengenai maksud bahasa tekstual yang ternyata sama sekali tidak berkaitan dengan perasaan (mood) si pengirim pesan.

Yaa, mungkin pesan moral yang bisa saya (dan sejuta addressee yang suka over think dalam menafsirkan pikiran si addresser) petik dari tulisan serabutan saya ini adalah, “Jangan berpikir terlalu jauh dan banyak menarik kesimpulan dari sebuah pesan atau bahasa tekstual hanya karena penggunaan tanda bacanya”. Sedangkan bagi para addresser pengguna sms, bbm, dan bentuk bahasa tekstual lainnya adalah, “berhati-hatilah dalam menggunakan tanda baca dalam bahasa tekstual”. Bagi kamu, mungkin tak ada maksud dan emosi tertentu yang terkandung dalam pesan yang kamu kirimkan. Namun ternyata sebuah titik dalam pesanmu, bisa berarti banyak hal bagi mereka, para penerima pesan.

special thanks to @mariaanastasiaa, twit Anda dan obrolan dini hari kita menginspirasi saya :)

Wednesday, 28 March 2012

Blow Out The Candles And Make A Wish

Menemukan foto-foto momen ulang tahun, yang tahun lalu juga di salah satu folder Blackberry, dan berpikir untuk digabungkan dengan yang tahun ini, kemudian di posting buat kenang-kenangan :)

Blow Out
The Candles
And.........
Make
A Wish :)

Twenty Something

Ini adalah post pertama saya setelah menginjak usia 21. Agak sedikit basi ya memang, mengingat ulang tahun saya sebenarnya tanggal 3 Maret lalu yang berarti sudah lama berlalu karena sekarang bahkan nyaris memasuki bulan April. Belum lagi sudah dua bulan lebih saya ngga nulis posting baru atau apalah. Sungguh tidak produktif  : (

Anyway, walaupun terlambat, saya mau membagi kisah ulang tahun saya yang………………… berwarna. Mungkin kata itu yang paling tepat untuk mendefinisikannya. Tak melulu bahagia, apalagi sedih, hanya warna seperti halnya rasa, bervariasi, melengkapi, menggenapi. Saya akan membagi kisah ini ke dalam tiga bagian.
  • Everlasting Friends (or family, maybe J )
Pagi ulang tahun saya terbangun dengan feel yang agak campur aduk. Sudah beberapa tahun terakhir sejak saya memasuki kategori ‘dewasa’, ulang tahun bukanlah hal yang terlalu dibesar-besarkan dalam keluarga. Meskipun tentu saja ucapan selamat, kue-kue, dan hadiah (yang semakin saya dewasa sifatnya lebih ke fungsi praktis, baca: uang) tidak pernah absen hingga usia saya yang ke-21 ini. Namun karena satu dan lain hal yang terjadi sehari sebelum hari ulang tahun saya, sejujurnya hari itu mood saya agak-agak gamang. Lebih tidak enak lagi saat hari ulang tahun ternyata jatuh ketika weekend (dan rumah jauh dari teman-teman) adalah, saya tidak bisa berharap bahwa teman-teman saya akan datang ke rumah untuk memberikan surprise atau semacamnya. Belum lagi Ayah yang sedang pergi umroh, sehingga keluarga di rumah juga tidak lengkap. Tapi ya sudahlah, mood yang kurang enak itu sudah cukup membuat saya malas melakukan apapun atau pergi kemanapun. Menjelang sore, mama mengajak saya untuk pergi makan ke Pondok Indah Mall bersama keluarga tante saya, karena tidak punya rencana lain, saya hanya mengiyakan.

Sesampainya di PIM, mama dan saya memilih restoran sembari menunggu datangnya keluarga tante yang katanya terjebak macet di jalan. Saat sedang menunggu itulah kemudian…………………………… KEJUTAN!!!! Ternyata yang datang bukan keluarga tante saya, melainkan Caca, Dinda, Ina, dan Cuplis, sahabat-sahabat saya sejak SMA! Mereka datang membawakan kue dan hadiah. Duh, dengan suasana hati saya hari itu saya jadi semakin melankolis dan langsung berlinang air mata saking terharu. Mereka hadir seolah melipur kegundahan hati saya! hahaha. Bia dan Mamut (another teman SMA) yang kebetulan juga berada di PIM kemudian turut bergabung. Sedangkan Alya, Tiyul, dan Aul direpresentasikan melalui hadiah yang dibawa oleh Caca. However, terima kasih sekali ya semuanya…… kalian adalah yang terbaik yang Tuhan kasih buat saya, rasanya saya tidak bisa meminta lebih lagi :____D kalian adalah………………… keluarga J
Thanks Kiddos! Caca, Ina, Dinda, Cuplis :*
Best Gift Ever, Made by Tiyul :)
  •  Mr. Perfect Timing
Bagian ini diisi oleh orang yang bisa dibilang istimewa dalam hati saya selama beberapa waktu terakhir. Ialah yang saya tunggu. Orang yang saya benci hingga mual, namun juga amat sangat saya rindukan. Cinta dan benci itu konon bedanya hanya setipis kulit bawang, mungkin benar adanya. Malam itu, setelah mendapat kejutan manis dari sahabat-sahabat saya, saya bertemu dengan Mr. Perfect Timing (sebut saja demikian). Penyebutan yang saya rasa tepat mengingat orang yang selalu keluar dan masuk dalam hidup saya secara asal-asalan ini seringkali benar-benar muncul di saat-saat yang—entah bagaimana—tepat.  Bagi saya, mengingatnya adalah suka sekaligus luka, atas dasar itu saya tidak ingin menceritakan terlalu banyak tentangnya. Yang jelas malam itu saya menghabiskan beberapa jam dengan Mr. Perfect Timing. Makan di tempat biasa, membicarakan hal-hal yang biasa, hanya saja di hari istimewa saya dan dengan orang yang selalu bisa menjadikan hal-hal biasa menjadi sangat istimewa. Terima kasih atas waktu dan kebersamaan itu. Terima kasih atas waktu yang selalu tepat (sekaligus tidak pernah tepat), terima kasih atas tawa dan conversation yang kita bagi. Setelah hari ini, saya tahu kamu mungkin akan pergi lagi, dan saya kembali membenci dan menguburmu dengan seluruh daya yang saya miliki. Tapi biarkanlah hari istimewa saya itu, ditutup bersama Anda, Mr. Perfect Timing.
  •  New Best Friends
Dua hari setelah ulang tahun, yakni hari Senin tanggal 5 Maret 2012, kuliah berjalan seperti biasa. Setelah kelas Gender & Seksualitas, saya, Anggy, dan Kiko (peer group di kampus) seperti biasa duduk di Takor sambil menunggu kelas berikutnya. Kemudian, ketika sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Kessy datang sambil membawa Banana Hawaiian Salad yang sudah dihiasi lilin-lilin ulang tahun.... Setelah itu geng main FISIP dan anak-anak jurusan bergantian memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Terima kasih atas perhatian sederhana yang kalian berikan, sungguh saya beruntung punya teman-teman yang begitu baik dan perhatian J
Banana Hawaiian Salad + Rainbow Candles, Kessy's Idea I guess :)

Keesokan harinya saya memenuhi janji untuk mentraktir anak-anak jurusan karaoke. Entah kenapa kehidupan teman-teman Antrop 2009 tidak pernah lepas dari ruang karaoke :___D terima kasih yaa, kalian seru sekali dan memeriahkan suasana ulang tahun saya. Kalianlah para sahabat dari dunia perkuliahan saya J
Let's Sing!
Bawang, tampil dance SNSD
Antrop09' Girls :)
Dan beginilah, kehidupan twenty something saya resmi dibuka. Dengan warna, yang tidak semuanya indah, tetapi semuanya bermakna. Saya harap usia yang baru ini membawa kedewasaan dan kebaikan yang lebih dari sebelumnya. Semoga.