Showing posts with label Hobby. Show all posts
Showing posts with label Hobby. Show all posts

Tuesday, 5 March 2013

Things I Never Said


Saya masih ingat ketika malam itu kita berbincang di kedai bubur yang biasa. Kamu menyesap teh panas tanpa gulamu, dan saya menceritakan kisah saya dengan intonasi campur aduk. Api kemarahan yang meletup kemudian bergantian dengan desah putus asa. Ada air mata yang tertahan untuk jatuh. Bukan karena saya tak ingin menumpahkannya, tetapi karena saya terlalu frustasi untuk sekedar menangis.

Kamu mendengarkan dengan sabar, kamu bilang kamu mengerti. Kamu mencoba menganalisa cerita saya tentangnya sambil membandingkannya dengan kisahmu sendiri.

“Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai,” ungkapmu asal—atau tidak. Namun cukup untuk membuat saya tertegun pada saat itu. Merasa tertampar. Memandang kosong ke seberang jalan Margonda dari tempat duduk saya di kedai bubur itu. Menyaksikan lalu lintasnya yang ramai, seperti katamu. Bahkan setelah dia melukai hati saya. Bahkan ketika saya sudah mengeluarkannya dari dalam hidup saya.

Saya menemukan kebenaran dalam ujaranmu. Beberapa bulan yang lalu.

Ketika kita masih terhubung. Ketika kamu dan saya masih duduk berhadapan di meja di kedai bubur yang biasa. Untuk sekedar menggunjingkan orang-orang yang kita kenal, atau yang hanya sekedar lewat. Atau yang lebih serius—membagi ide dan rencana hingga larut.

Ketika itu saya tidak bisa membayangkan kita berada dalam situasi seperti hari ini.

Seperti bagaimana kamu tidak lagi memandang saya dengan senyum kekanakanmu yang biasa. Seperti bagaimana kamu tidak lagi mengajak saya makan pagi atau mengantar saya pulang sampai gerbang. Seperti bagaimana kini saya dan kamu masih mengunjungi kedai bubur yang biasa tapi tak pernah lagi bersama-sama.

Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai.

Yang saya tidak pernah bilang, ada luka tak tertanggungkan ketika ia tak ada. Ada sesak tak terlukiskan ketika saya tahu ia bersama orang selain saya. Ada doa yang tidak terhenti—berharap ia berubah dan kembali lagi kepada saya seperti saat ini.

Dan kamu marah untuk kebahagiaan yang saya miliki bersamanya. Kebahagiaan yang mungkin salah. Kebahagiaan yang menurut kamu gila. Kebahagiaan yang saya harap tidak berakhir.

Saya tidak berharap kamu mengerti.

Thursday, 24 November 2011

Di balik Jendela Kereta

Di balik jendela kereta menuju Yogyakarta, aku tergoda. Untuk diam-diam menatapi wajah. Mencuri pandang ekspresi. Mendengar bisik-bisik percakapan. Mungkin untuk membunuh waktu. Mungkin juga karena dengan begitu kusadari bahwa di balik tubuh-tubuh yang bergerak terdapat kehidupan. Terdapat kisah. Menyadari bahwa setiap rumah, toko, jalanan yang kulihat dari balik jendela kereta memiliki penghuni, juragan, pejalan, yang masing-masing juga punya kisah. Megah ataupun sendu. Namun juga nyata. Menyadari bahwa kita bukanlah satu-satunya yang punya cerita dan rasa.

Kadang-kadang kita perlu melihat ironi agar lebih empati. Perlu analogi agar dapat berefleksi.

Atau mungkin, sekedar duduk diam di balik jendela kereta bisnis tanpa pendingin, untuk bisa menyadari realita.

(dan kereta Fajar Utama terus melaju menuju Yogyakarta)

Friday, 11 November 2011

Menabung Rindu

Duniaku seolah terbalik ketika kita bertemu lagi. Jika duniaku adalah sebuah telur yang terdiri dari cairan bening kental dengan cairan kuning sebagai intinya, maka kamu adalah sebentuk tangan manusia yang menggengam telur itu, kemudian mengguncang-guncang telur itu dengan demikian kencang hingga cairan putih dan kuningnya bercampur. Hingga aku bahkan tidak paham lagi bagian mana yang menjadi intinya.

Mungkin karena sebenarnya kamulah inti dari kehidupanku. Entah sejak kapan. Entah sampai kapan. Tapi untuk saat ini, aku rasa demikian.

Sudah beberapa bulan sejak pertemuan terakhir kita yang berakhir luka di hatiku. Namun saat kamu mengirim pesan dan bertanya “Apa kabar”, aku langsung menyambarnya sebagai sebuah kesempatan. Kesempatan bertemu yang tak pernah bisa kau janjikan kapan. Aku seperti kucing lapar yang rakus menerkam sisa-sisa tulang ikan.

Hingga jadilah aku,  kamu, dan sebuah pertemuan.

Setiap pertemuan denganmu adalah proses. Proses untukku merekam setiap tatapan, sentuhan, kata-kata. Proses memanjakan pikiranku dengan ide-ide segarmu, lelucon nakalmu, dan kisah-kisah serumu selama kita berpisah. Proses mereguk manisnya kecupan, lembutnya belaian, dan eratnya genggaman. Proses menghirup aroma tubuhmu yang harum bercampur bau rokok ketika kamu membenamkan diriku dalam pelukanmu. Lalu semua proses itu akan ku akumulasikan dalam sebuah kotak berlabel memori. Tempat aku menabung seluruh rinduku untukmu.

Seluruh proses itu terjadi hanya dalam sesaat pertemuan kita. Hingga nanti ketika kamu pergi lagi untuk waktu yang ku tak tahu sampai kapan, maka aku akan membuka kotak memori itu. Sedikit demi sedikit, aku akan memutar kenangan tentangmu. Tentang kita. Tentang kebersamaan yang rasanya selalu tak mencukupi.

Aku akan bertahan dengan seluruh memori itu. Aku akan bertahan hingga hari di mana kita akan bertemu lagi. Hari di mana kita seolah tak berjarak dan seolah tak pernah berpisah.

Aku akan menunggu.

Aku hanya berharap hari itu akan datang lebih cepat, karena demi Tuhan kenangan itu semakin samar. Persediaan obat penahan rinduku sudah semakin tipis dan aku harus kembali menabung kepingan-kepingan rindu itu.

Maka kembalilah lebih cepat kali ini.