Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Monday, 29 July 2013

Luka

Meyembuhkan dan menghilangkan bekas luka adalah dua hal yang berbeda.

Ketika darah sudah mengering dan koreng telah terkelupas, namun bekasnya masih tetap terlihat. Mungkin karena jaringan kulit baru yang tumbuh memiliki warna yang berbeda dengan kulit yang semula, atau mungkin bekas luka itu hanya menyisakan goresan kecil berwarna putih. Namun ketika kita melihatnya, bekas itu masih ada. Tidak hilang.

Seperti perkara memaafkan dan melupakan. Seringkali dengan enteng aku mendengar atau mengucapkan “Ya sudahlah” atau “Sudah aku maafkan”, tanpa kusadari konsekuensi di balik kalimat itu. Bagiku memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan hal-hal tidak mengenakan yang pernah terjadi pada diriku. Memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan mereka yang pernah melukai hatiku.

Namun sekelumit sisi gelap dari hati ini ternyata seringkali belum bisa melupakan. Ketika pola-pola yang serupa dengan situasi yang pernah ku alami terjadi, memori ini langsung mengidentifikasikannya dengan kejadian di masa lalu. Pikiranku pun terganggu. Hati ini berjengit ngilu. Sama halnya seperti ketika kita melihat bekas luka yang membuat kulit tak lagi sempurna, kita pun kembali ingat bagaimana cara kita mendapat luka itu; rasa malu ketika terjatuh, rasa sakit ketika berdarah, dan rasa perih ketika luka itu diobati.

Segalanya tak lagi sama sejak kita terlanjur terluka.

Nuraniku kemudian terusik, memprotes “separuhnya” yang pendendam itu.

“Separuhnya” yang ternyata masih berduka.

Monday, 17 June 2013

Kembali

Bagaimana harus menebus "dosa" absen menulis selama berbulan-bulan yang saya lakukan? Saya bahkan tak dapat mengingat tulisan terakhir saya diposkan pada bulan apa. Setelah berbulan-bulan terbebani dengan kewajiban menyelesaikan naskah akademis, membuat waktu dan pikiran saya tersita, sangat. Tentu saja saya rindu berpikir lebih romantis, menulis lebih puitis. Apalagi ada banyak hal yang sesungguhnya ingin saya ceritakan....

Beberapa bulan ini... Luar biasa. Tidak kurang dari itu.

Saya harus mulai dari mana untuk menuturkan rasa yang ingin saya tunjukan pada seluruh dunia?

Mungkin dari sini. Dari "kembali'.

Tuesday, 5 March 2013

Things I Never Said


Saya masih ingat ketika malam itu kita berbincang di kedai bubur yang biasa. Kamu menyesap teh panas tanpa gulamu, dan saya menceritakan kisah saya dengan intonasi campur aduk. Api kemarahan yang meletup kemudian bergantian dengan desah putus asa. Ada air mata yang tertahan untuk jatuh. Bukan karena saya tak ingin menumpahkannya, tetapi karena saya terlalu frustasi untuk sekedar menangis.

Kamu mendengarkan dengan sabar, kamu bilang kamu mengerti. Kamu mencoba menganalisa cerita saya tentangnya sambil membandingkannya dengan kisahmu sendiri.

“Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai,” ungkapmu asal—atau tidak. Namun cukup untuk membuat saya tertegun pada saat itu. Merasa tertampar. Memandang kosong ke seberang jalan Margonda dari tempat duduk saya di kedai bubur itu. Menyaksikan lalu lintasnya yang ramai, seperti katamu. Bahkan setelah dia melukai hati saya. Bahkan ketika saya sudah mengeluarkannya dari dalam hidup saya.

Saya menemukan kebenaran dalam ujaranmu. Beberapa bulan yang lalu.

Ketika kita masih terhubung. Ketika kamu dan saya masih duduk berhadapan di meja di kedai bubur yang biasa. Untuk sekedar menggunjingkan orang-orang yang kita kenal, atau yang hanya sekedar lewat. Atau yang lebih serius—membagi ide dan rencana hingga larut.

Ketika itu saya tidak bisa membayangkan kita berada dalam situasi seperti hari ini.

Seperti bagaimana kamu tidak lagi memandang saya dengan senyum kekanakanmu yang biasa. Seperti bagaimana kamu tidak lagi mengajak saya makan pagi atau mengantar saya pulang sampai gerbang. Seperti bagaimana kini saya dan kamu masih mengunjungi kedai bubur yang biasa tapi tak pernah lagi bersama-sama.

Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai.

Yang saya tidak pernah bilang, ada luka tak tertanggungkan ketika ia tak ada. Ada sesak tak terlukiskan ketika saya tahu ia bersama orang selain saya. Ada doa yang tidak terhenti—berharap ia berubah dan kembali lagi kepada saya seperti saat ini.

Dan kamu marah untuk kebahagiaan yang saya miliki bersamanya. Kebahagiaan yang mungkin salah. Kebahagiaan yang menurut kamu gila. Kebahagiaan yang saya harap tidak berakhir.

Saya tidak berharap kamu mengerti.

Monday, 16 July 2012

Happy (Belated) Birthday CACA!



HAPPY BELATED BIRTHDAY MY VERY BEST FRIEND ANNAYU CACA MAHARANI!!!!!!

Hari ini, ketika akhirnya gue sempet ngetik tulisan ini, ulang tahun Caca udah lewat 25 hari. Omoooo, hampir sebulan dan gue bisa-bisanya baru nulis ini buat  dia. Buat ulang tahun sahabat gue!!! Semoga setelah ini gue masih dianggap sahabat sama Caca :’( *drama*

Mungkin realisasinya emang udah telat banget, tapi percaya deh kalau niat buat nulis satu post khusus di blog gue untuk bercerita tentang lo adalah satu niat yang emang udah lama banget ada. Cuma biar lebih berkesan, ceritanya gue nunggu momen ulang tahun lo dulu, yah apa daya ternyata momennya keburu kelewat juga hehe.

So, here we go… gue mau nulis tentang sahabat gue yang ter-paling-amat-sangat dekat ini.

Namanya Annisa Ayu Maharani, lahir pada tanggal 21 Juni, 21 tahun yang lalu dari pasangan Mama Caca dan Ayah Caca (karena gue gak tau nama bokap nyokap lo ca L). Kemudian untuk menyingkat namanya yang panjang, cukuplah ia dikenal dengan Caca. Caca tumbuh menjadi anak yang aktif dan gemar berolahraga hahah apa sih. Tapi bener lho Caca nih atlet berat pokoknya. Mengenyam pendidikan di SD Yasporbi, SMPN 12 Jakarta, kemudian SMAN 70 Jakarta. Nah, waktu sekolah di 70 inilah gue dan Caca berkenalan pertama kali, karena kebetulan kita sekelas pas jaman utas (kelas satu). Walaupun sekelas, gue sama Caca sebenernya ga terlalu main bareng. Saat itu gue masih lebih sering main sama temen-temen SMP gue yang kesebar di kelas lain dan Caca main bareng sama beberapa anak kelas. Masih pas kelas satu juga, gue tau saat itu nyokapnya caca lagi sakit parah dan gak lama beliau meninggal. Waktu itu tuh gue mulai mengobrol lebih dalam sama Caca.

Gara-garanya sih gue waktu itu disuruh ngasih titipan belasungkawa dari anak-anak kelas buat Caca, trus ngobrol deh jadinya. Gue gak tau sih lo masih inget atau nggak Ca, tapi waktu itu kita pernah ngobrol di mushola 70, pas jam solat dhuha (cailaaaahhh, jaman iman kita masih tebel banget tuh bay hahahah). Waktu itu Caca cerita tentang nyokapnya yang udah lama sakit, orang tuanya yang udah pisah, tentang tantenya yang serumah sama dia dan nyokapnya, dan yang paling gue inget Caca ngomong gini “Kalau buat orang-orang, di rumah tuh waktunya mereka istirahat, kalau buat gue, justru ke sekolah itu saatnya gue liburan, karena kalau di rumah banyak banget yang harus gue urusin”. Langsung kan denger semua cerita Caca, gue bercucur air mata, soalnya gue paling iba kalau denger-denger soal drama keluarga gitu, hahahha.

Setelah itu gue mulai sering ngobrol sama Caca, walaupun belum deket-deket banget sih. Makin hari gue makin suka sama profilnya Caca, kecil, lucu, ke sekolah dengan baju rada kusut dan muka ngantuk, anak cheers tapi cenderung keker daripada centil, cuek, kemana-mana naik bis, dan dari ratusan anak 70 yang terobsesi banget pengen masuk jurusan IPA, gue sama Caca justru sama sekali ga minat dan lebih milih jadi anak IPS (padahal nilai kita berdua memenuhi syarat buat masuk IPA loh *sombong*)! Kelas dua, gue sama Caca pisah kelas. Tapi karena sekarang Caca tinggal di rumah tantenya di Ciledug, kita malah jadi sering pulang bareng. Pas kelas tiga, gue sama Caca sekelas lagi dan jadi satu peer group. Di sini kita mulai makin deket, apalagi masa-masa persiapan tes masuk perguruan tinggi, jatuh bangun bareng bangetlah haha.
Coret-coretan Jaman SMA
Wisuda SMA
Akhirnya setelah lulus SMA. Caca diterima di Jurusan Sastra Belanda, FIB UI, sedangkan gue masuk jurusan Antropologi, FISIP UI. Seneng banget sih waktu itu, akhirnya bisa punya jakun bareng, walaupun beda makara. Kita pun akhirnya ngekos bareng, satu kamar berdua. Sampe sekarang. Memasuki tahun keempat kuliah. Di usia kita yang menginjak 21tahun. Yang berarti juga, udah hampir enam tahun sejak gue dan Caca saling kenal. MAN, TIME FLIES!!!

Sejak kuliah, bisa dibilang Caca adalah sahabat terdekat gue. Baik secara emosional maupun secara kita tinggal satu kosan hahaha. Banyak banget yang udah kita lewatin bareng-bareng. Hal-hal normal sampe abnormal. Mulai dari galau akademis, sampe galau finansial. Mulai dari bercanda jorok sampe nangis kejer. Dari curhat gebetan, pacar, selingkuhan, lipiran, kayaknya udah pernah semua, HAHAHAH. Ada kalanya kita berdua sibuk masing-masing dan jarang pulang ke kosan. Ada kalanya kita terlalu ribet sama tugas, sampe akhirnya ada di satu kamar tapi ga ngomong dan tenggelam dalam dunianya sendiri-sendiri. Ada masanya kamar kita berantakan kayak kapal pecah, ada kalanya kita kerja bakti jadi upik abu. Semuanya udah gue sama Caca alamin.

Dan entah kenapa kita berdua seklop itu.

Walaupun gue menye dan Caca cuek. Walaupun Caca nonton gigs dan gue nonton drama korea. Walaupun temen-temen main gue sama Caca di kampus beda 180 derajat. Walaupun Caca rokoknya Djarum Super sedangkan gue malah asma! HAHAHAHAHAH. Yang pasti Caca adalah sahabat terbaik dan terdekat gue yang tau semua cerita gue sekonyol dan se-gak-penting apapun. Caca adalah orang yang pernah ngeliat gue di titik terendah sampe udah gatau mesti ketawa apa nangis. Mesti nyilet nadi apa minum baygon, huahahah ngga deng.

Hang out Pas Kuliah
Anyway, what i'm trying to say is………………..

I’M THE LUCKIEST GIRL TO HAVE A FRIEND SISTER LIKE YOU CA!

Sering dikira Adik-Kakak, mirip ngga sih? 
SELAMAT TANGGAL 21 YANG KE-21! :D 

Friday, 27 April 2012

Partikel: Euforia Penantian 8 Tahun!

Seperti biasa saya nyaris selalu terlambat menuliskan apa yang sebenarnya ingin saya post-kan di blog sejak lama. Namun untung saja sebelum bulan berganti dan kejadian yang saya alami menjadi terlalu basi, akhirnya saya berhasil terbebas dari kesibukan sehari-hari dan menepis keinginan leyeh-leyeh di tempat tidur sepanjang hari untuk menceritakan kejadian ini.

Semuanya bermula dari ulah penulis-lokal-favorit-saya-sepanjang-masa, Dewi Lestari (Dee), yang setelah vakum melanjutkan serial-favorit-saya-sepanjang-masa, Supernova, selama delapan tahun, akhirnya merilis jilid terbarunya yang bertajuk Partikel (Supernova 4) pada hari Jumat, 13 April 2012 lalu. Berita dan promosi mengenai peluncuran seri terbaru Supernova ini memang sudah digembar-gemborkan sejak lama membuat saya dan ribuan fans Supernova lainnya menunggu dengan tidak sabar. Pasalnya pertama kali saya membaca Supernova pertama (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) adalah pada saat saya duduk di kelas dua SMP (14 tahun), dan sekarang saya telah menjadi mahasiwi tingkat 3 yang berusia 21 tahun. Yak, 7 tahun berlalu sejak pertama kali saya menjadi penggemar Supernova. Singkatnya, pada hari rilis Partikel saya memang sudah berencana untuk datang ke salah satu toko buku yang menjadi lokasi acara launching Partikel. Saya benar-benar sudah termakan oleh promo besar-besaran yang dilakukan Dee dan pihak penerbit. Kebetulan salah satu lokasi acara launching adalah Gramedia Pondok Indah Mall yang memang menjadi langganan saya kalau belanja buku.
Ini dia buku lokal paling ditunggu di tahun 2012
Sejak awal karena terpengaruh dengan twit-twit dari @deelestari @aDEEction dan @bentangpustaka, saya memang cukup antusias mempersiapkan diri untuk datang ke acara launching buku tersebut. Katanya, Partikel akan dijual serentak di wilayah Jawa dan Bali pada pukul 4.44 sore, para penggemar diharapkan untuk memakai dresscode berupa baju berwarna hijau dan hitam seperti halnya warna cover Partikel. Saya sampai pinjam baju ke teman segala karena tidak punya baju warna hijau :p Sebenarnya tidak ada pengaruhnya juga sih, cuma saya terlanjur terbawa euforia saja hehehe. Dengan ditemani oleh sahabat saya, Tiza, akhirnya saya membeli Partikel sekitar pukul 5 sore. Saat itu di kasir Gramedia sudah ramai para pembaca Supernova yang turut berpakaian nuansa hitam-hijau seperti saya. Akhirnyaaaaa, saya resmi memperoleh lanjutan Supernova! Yeay!!!

Foto bersama Alien yang menjadi maskot dari Partikel
Kemudian, setelah memperoleh Partikel, saya menemani Tiza melihat-lihat bagian komik di toko buku tersebut. Tiza sempat meledek saya dengan berkata, "Udah? Gitu doang Supernova-nya?" godanya. Sekitar 10 menit melihat-lihat bagian komik, saya dan Tiza berniat keluar dari Gramedia, hingga tiba-tiba............ DEMI APAPUN DI DEKAT PINTU MASUK GRAMEDIA ADA DEWI LESTARI BESERTA KELUARGANYA. Saya mendadak lemas (tidak dilebih-lebihkan) dan segera memegang lengan Tiza, "Sumpah itu ada Dewi Lestari........ Gak bisa gini gue harus foto dan minta tanda tangan tapi gue lemes......" kata saya dengan noraknya. TAPI BIAR GIMANA DEWI LESTARI ITU IDOLA SAYA KAN?!! Akhirnya setelah mendapat dukungan moril dari Tiza, saya menghampiri Dewi Lestari (saya masih tetap lemas) dan berkata, "Mbak Dewi boleh minta foto bareng nggak?" kemudian saya pun berfoto bersama idola saya itu hohoho! Tidak berhenti disitu, saya juga meminjam pulpen ke mas-mas-konter-handphone dan meminta tanda tangan Dewi Lestari di halaman depan buku Partikel yang baru saya beli. Kyaaaaaaaa!!! *teriak ala fangirl K-Pop*
Dee, Atisha (yang melirik curiga pada saya) & saya (dengan baju hijau pinjaman)
Rasanya tidak sia-sia saya terlarut oleh euforia yang dihadirkan oleh Partikel. Saya jadi bisa bertemu dengan penulis favorit saya :'D Senang sekali ketika Dewi Lestari berkata, "Makasih yaa, sudah datang dengan memakai dresscode-nya!" ternyata tidak sia-sia sampai pinjam baju hijau segala! HAHAHA.
Partikel milik saya lengkap dengan tanda tangan Dewi Lestari!
Bahkan sekarang saya sudah tidak sabar lagi untuk membaca Supernova yang berikutnya!

Sunday, 8 April 2012

TANDA BACA: Ketika Sebuah Titik Berarti Segalanya

Kira-kira seminggu yang lalu, pada suatu dini hari saya terbangun dan refleks mengecek timeline Über-social. Suatu kebiasaan yang saya lakukan setiap kali terbangun pada jam-jam dimana saya belum seharusnya bangun. Kemudian sambil membaca sepintas, saya meretweet twit seorang teman saya. Begini tulisannya,

@mariaanatasiaa: kalau kata dalam sms-nya tidak banyak, disertai dengan beberapa titik di belakangnya, maksudnya apa ya?

Saya meretwitnya karena merasa senasib. Maria—nama teman saya itu—bingung karena padanan tanda baca pada pesan singkat yang ia terima. Nah, saya sendiri seringkali juga merasakan hal yang sama: saya suka memikirkan maksud (perasaan / mood) pengirim teks dengan menganalisa pilihan kata, penggunaan huruf, dan padanan tanda baca yang ia gunakan. Tidakah kamu sering melakukannya juga? Mungkin supaya tidak bingung, saya akan menggunakan contoh kasus sebagai berikut.

Misalnya begini, kamu mengirim sms atau bbm kepada temanmu yang isinya kira-kira seperti ini:

“Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?”

Lalu temanmu membalasnya dengan kata “oke”. Selintas percakapan tersebut terasa sepele dan biasa-biasa saja. Namun bagi saya pribadi, ada perasaan yang berbeda saat saya membaca balasan “oke” dari teman saya itu dengan cara penulisan yang berbeda.
A
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: oke 

B
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: okee / oke!

C
X: Besok sepertinya saya nggak masuk kuliah, bisa minta tolong titip absen?
Y: oke…
Ketiga contoh percakapan di atas sebenarnya mempertanyakan hal yang sama dan memberikan jawaban yang kurang lebih maksudnya juga sama, yakni si orang Y menyetujui permintaan si orang X. Tapi jika saya menjadi orang X, perasaan saya setalah menerima jawaban dari si orang Y akan berbeda tergantung bagaimana iya menuliskan jawaban “oke” tersebut. Misalnya jika jawaban yang diberikan Y seperti pada contoh A, maka saya akan berpikir bahwa “Y setuju melakukan permintaan X, tetapi dia saat ini sedang sibuk sehingga menjawab permintaan X dengan sekenanya saja, mungkin juga sebenarnya permintaan X agak mengganggu Y meskipun ia tetap menyetujuinya”. Hal ini berbeda ketika Y memberikan jawaban seperti pada contoh B, maka saya akan berpikir seperti ini, “Y menyetujui permintaan X karena baginya it’s not a big deal, tidak merepotkan sehingga dia mengatakannya dengan semangat, ikhlas, atau dengan kata lain ‘no problem!’” tentu saja jika ia menjawab dengan cara menjawab tipe B ini si X akan merasa lebih lega dan tidak merasa sungkan kepada Y. Sedangkan jika Y menjawab dengan cara seperti pada contoh C, maka mungkin sebagai X saya akan merasa bingung, “apakah sebenarnya Y menyetujui permintaan X dengan ikhlas? Atau sebenarnya ia merasa ragu untuk membantu X namun tidak enak mengutarakannya? Apakah permintaan X terlalu menyulitkan bagi Y?” jujur saja tanda titik-titik di belakang kalimat “oke” pada contoh C bagi saya mengandung kegamangan.

Ya, semuanya hanya karena tanda baca. Mungkin saya yang over think soal penggunaan  tanda baca untuk menganalisa makna dari suatu bahasa tekstual ini. Namun fenomena ini sungguh nyata. Mungkin hal ini tidak kamu rasakan ketika kamu hanya menanyakan hal yang sepele kepada orang yang juga kamu anggap sepele. Namun bagaimana jika masalah tanda baca ini muncul ketika kamu sedang saling berkirim pesan dengan pacar atau orang yang sedang kamu taksir? Percaya atau tidak, penggunaan tanda baca yang tidak tepat acap kali membuat orang salah menangkap makna dari pesan tersebut (dan berujung pertengkaran, atau minimal...... kegalauan). 


Memang saya tidak pernah melakukan survei, baik yang kecil apalagi yang besar, menyangkut persoalan ini. Namun beberapa kali saya mendengar keluhan teman yang kira-kira isinya begini “Sumpah ya, kok dia bales bbm gue singkat-singkat banget? Mana nggak pakai tanda baca sama sekali....” atau dalam versi yang berbeda, “Ini orang maksudnya apa sih?  Kenapa jadi marah-marah ke gue?” sebuah keluhan yang muncul hanya karena mereka membaca sebuah pesan dengan tanda baca tertentu. Padahal pernahkah kamu juga berpikir bahwa kita tidak bisa memastikan seseorang itu merasa marah, sedih, senang, suka, atau benci hanya karena ia mengirim pesan dengan tanda baca tertentu atau tidak menggunakan tanda baca sama sekali. Ingatkah kita, bahwa bahasa tekstual sebenarnya tidak memiliki nada? Namun kemudian kita dapat mengimajinasikan nada bicara tertentu karena adanya penggunaan tanda baca tersebut. Asumsi-asumsi yang muncul begitu saja di kepala si penerima pesan (addressee), karena tanda baca yang digunakan si pengirim pesan (addresser). Mungkin inilah yang disebut the power of tanda baca ya!

Di sisi lain, bisa aja pemilihan tanda-tanda baca oleh si pengirim pesan dilatarbelakangi oleh hal yang sama sekali berbeda dengan dengan apa yang penerima pesan pikirkan, misalnya sebatas “memang begitu gaya smsnya”, “dia lagi males ngetik panjang aja”, “dia lagi buru-buru”, “dia tidak tahu tanda baca yang dia gunakan tidak tepat / salah”, “typo”, atau sesederhana “emang tuh orang bego aja dalam berbahasa”. See? Ada banyak probabilitas mengenai maksud bahasa tekstual yang ternyata sama sekali tidak berkaitan dengan perasaan (mood) si pengirim pesan.

Yaa, mungkin pesan moral yang bisa saya (dan sejuta addressee yang suka over think dalam menafsirkan pikiran si addresser) petik dari tulisan serabutan saya ini adalah, “Jangan berpikir terlalu jauh dan banyak menarik kesimpulan dari sebuah pesan atau bahasa tekstual hanya karena penggunaan tanda bacanya”. Sedangkan bagi para addresser pengguna sms, bbm, dan bentuk bahasa tekstual lainnya adalah, “berhati-hatilah dalam menggunakan tanda baca dalam bahasa tekstual”. Bagi kamu, mungkin tak ada maksud dan emosi tertentu yang terkandung dalam pesan yang kamu kirimkan. Namun ternyata sebuah titik dalam pesanmu, bisa berarti banyak hal bagi mereka, para penerima pesan.

special thanks to @mariaanastasiaa, twit Anda dan obrolan dini hari kita menginspirasi saya :)

Saturday, 31 December 2011

Demam X-Men (lika-liku perjuangan nonton X-Men di akhir tahun 2011 )

Suatu hari (29/12/2011) ketika tengah mengerjakan makalah UAS Antropologi Medis di kosan teman, gue terserang uring-uringan akut. Cuaca panas, menstruasi, rasa malas, dan mata kuliah yang (gue anggap) tidak menarik membuat gue ogah-ogahan melanjutkan makalah setengah jadi itu. Akhirnya jadilah gue uring-uringan dan yang lebih buruk lagi turut mengganggu Anggy (si teman gue itu) yang sedang serius membuat makalahnya. Lucky me, she’s my best friend and understand me well, jadi meskipun yakin sebenarnya dia ingin mencekik gue karena terus-terusan rewel, tapi dia tidak melakukannya sungguhan :’D (Thank God). Kemudian gue yang mogok mengerjakan makalah membongkar koleksi DVD Anggy dan entah kenapa  memilih X-Men Origins: Wolverine untuk diputar. Yah, bukannya gue tidak suka Kisah Superhero, hanya saja lazimnya gue akan memilih kisah-kisah sendu dan romantis sebagai pilihan film untuk ditonton. Gue yang jarang update film-film terkini pun menonton DVD dengan anteng.

Ini dia awal mula pemicu "X-Men Fever"
Setelah kira-kira dua jam nonton, film selesai dan…………………………………… GUE KOK SUKA BANGET SAMA FILMNYA. Padahal ceritanya biasa-biasa saja, film yang menarik tapi ya sudah, tipikal kisah Superhero-lah. Kenapa ya, mungkin karena gue memang suka sekali dengan tokoh Wolverine. Yang pasti usai nonton gue uring-uringan lagi (lebih parah dari sebelumnya) karena ngotot mau nonton seri X-Men lainnya. Gue kembali mengganggu Anggy (I think she’s my victim in this case) dan mengirim bbm ke beberapa orang teman yang berada di sekitar Depok dan kiranya punya seri X-Men dan (yang terpenting) mau berbaik hati meminjamkan ke gue SECEPATNYA. Akhirnya setelah bbm-rayu-rengek sana-sini, teman jurusan sekaligus teman satu kosan gue, Stefany, berkata kalau dia punya film X-Men yang First Class. Okay, segera gue copy film itu sesampainya di kosan. Gue bangun untuk nonton film sampai pukul dua dini hari dan itu cukup luar biasa mengingat gue bukan orang yang kuat begadang.
otot meets singlet? NOT GOOD, but he's Wolverine! I still love him :)
Keesokan harinya (30/12/2011), gue ke kampus dengan iming-iming janji dari salah satu teman jurusan, Sindhunata, yang bilang bahwa teman sekamarnya punya X-Men 1-3. Dengan semangat 45 gue tunggu sampai jam kuliah selesai dan mampir kosan Sindhu untuk meng-copy X-Men. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak, ternyata karena kesalahan informasi, teman sekamar Sindhu cuma punya X-Men Origins dan X-Men First Class (yang keduanya sudah gue tonton semalam, damn!). Gue pun pulang dengan hati galau karena ingin nonton X-Men. Oh ya, kalau bingung kenapa gue tidak beli saja DVD nya, jawabannya sederhana: uang gue minggu itu sudah habis dan cuma cukup untuk ongkos pulang -_-“

Pulang kuliah, gue mampir ke kantor nyokap karena mau pulang bersama dan merengek minta beli DVD. Kemudian terjadilah percakapan ini:
Gue: Mam, nanti beli DVD X-Men dulu di Poins Square
Nyokap: Jauh, di Bintaro Plaza aja
Gue: Emang Ada?
Nyokap: Ada
Karena kalau mampir Poins Square dari Pondok Indah berarti rute pulang jadi lebih jauh, gue pun menurut. Sesampainya di Bintaro Plaza, toko yang nyokap maksud menjual DVD itu ada tulisan yang ditempel berbunyi begini: “JUAL DVD PS 2”. Oh well, mother. Dari Bintaro Plaza gue kontrol behel di dokter gigi di kawasan Bintaro juga, sambil iseng namun penuh harap gue nge-twit, “Dosa apa ya Alloh, mau nonton X-Men aja susah. Filmnya aja blm dpt smpe skrg” dan nggak lama……………… twit gue dibalas sama seorang teman SMA, Nessiana, “X-Men berapa? Kayaknya aku ada lengkapss” begitu katamya. Kebetulan rumah Nessia di Bintaro juga, jadi saya saat itu juga begitu selesai dari dokter gigi, memutuskan ke rumah Nessia untuk mengambil DVD X-Men. “Dicari dulu ya Nis, soalnya udah lama banget gaktau ada di mana,” kata Nessia di bbm. Gak apa-apa Nes, GAK APA-APA, ayo kita cari!
Sampai di rumah Nessia, ternyata telah ditemukan keping DVD X-Men 1 dan 2, sedangkan yang ke-3 gak ketemu. Ya sudah tak apa, yang penting nonton seri X-Men lainnya malam ini. Sayang ketika diputar DVD X-Men 1 ngadat mulai dari part 10 (Ya Alloh ada-ada aja ya), tapi yang X-Men 2 lancar sampai selesai.
I want to be Wolverine's girlfriend, YES I DO! 
Hm… ituah lika-liku perjuangan gue yang mendadak kesambet X-Men di akhir tahun 2011. Ini bukan posting penting atau menyentuh sih, tapi berhubung ini blog gue jadi semau gue ajalah ya hehe. Hasrat nonton X-Men gue masih tertunda selama belum nonton X-Men 1 dan 3, yah semoga saja lekas terpuaskan :’D
Terakhir, yang paling menggelikan adalah, sebenarnya gue nggak perlu ngelewatin lika-liku konyol perburuan film X-Men ini kalau saja gue langsung bilang iya waktu senior gue (walaupun gue lebih suka menyebutnya teman), Ai, menawarkan membawakan copy-an filmnya keesokan hari sesaat setelah gue bbm dia soal film X-Men. Maksud gue nggak mau ngerepotin orang, tapi akhirnya malah merepotkan diri sendiri dan LEBIH BANYAK ORANG LAGI. GUOBLOK EMANG YAH *kill me*

Semoga aja gue bisa lekas nonton seri lainnya, yang ujung-ujungnya tetap mau dibawain sama si Ai.

Friday, 11 November 2011

STUPIDO RITMO

You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
Smelling raindrops on a hilltop as they fall
You and I laughing loudly with no reasons in our walk
Chasing sunsets, dancing minuet in the dark
Why don't we just disappear
If that could keep us here?

You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
Writing love words with our whispers in our hearts
You and I stealing kisses from each other when we fight
Making wishes on the same star every night
Why don't we just dream away
If that could make us stay?

Why can't we just dream away?
We're not real, anyway
ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta
ra ta ta ra ta ta ta ra
ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta
ra ta ta ra ta ta ta ra
Why don't we just stay this high?
Pretend we're all that fly
Why can't we just stay this high?
We might rule our own sky

You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long
All life long

All life long

(song by Float)
click to hear Stupido Ritmo


I play this song more than a hundred times through i tunes, ipodand especially in my head.My heart sing every verse that describes about me and you.