Ada satu naskah yang sedemikian ingin saya selesaikan. Namanya skripsi. Satu syarat mutlak yang menentukan kelulusan saya dalam memperoleh gelar sarjana. Saya sudah memulainya sejak bulan Februari lalu, dan bulan Mei adalah tenggat waktu untuk menyelesaikannya. Ada banyak hal yang membuat semangat saya terbilang pasang-surut selama pengerjaan skripsi ini. Tidak bisa saya bilang sangat sulit, namun jelas sama sekali tidak mudah.
Untuk menyelesaikan pendidikan di program sarjana Antropologi ini, saya menyusun skripsi yang berjudul "Aturan Main Dalam Pergaulan Siswa SMAN 70 Jakarta".
Sebagai alumni sekolah tersebut, saya memang memilih bermain aman. Meski begitu, nyatanya di zona nyaman saya ini, segalanya tetap tak semulus yang saya bayangkan. Jika ada yang begitu menyita pikiran, tenaga, waktu, dan menjadi isi dalam doa-doa saya setiap hari sejak awal tahun ini, hal itu adalah harapan untuk menyelesaikan skripsi ini.
Saya harap saya mampu.
Monday, 29 July 2013
Luka
Meyembuhkan dan
menghilangkan bekas luka adalah dua hal yang berbeda.
Ketika darah
sudah mengering dan koreng telah terkelupas, namun bekasnya masih tetap
terlihat. Mungkin karena jaringan kulit baru yang tumbuh memiliki warna yang
berbeda dengan kulit yang semula, atau mungkin bekas luka itu hanya menyisakan
goresan kecil berwarna putih. Namun ketika kita melihatnya, bekas itu masih
ada. Tidak hilang.
Seperti perkara memaafkan dan melupakan. Seringkali dengan enteng aku mendengar atau mengucapkan “Ya sudahlah” atau “Sudah aku maafkan”, tanpa kusadari konsekuensi di balik kalimat itu. Bagiku memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan hal-hal tidak mengenakan yang pernah terjadi pada diriku. Memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan mereka yang pernah melukai hatiku.
Namun sekelumit
sisi gelap dari hati ini ternyata seringkali belum bisa melupakan. Ketika
pola-pola yang serupa dengan situasi yang pernah ku alami terjadi, memori ini
langsung mengidentifikasikannya dengan kejadian di masa lalu. Pikiranku pun terganggu. Hati ini
berjengit ngilu. Sama halnya seperti ketika kita melihat bekas luka yang
membuat kulit tak lagi sempurna, kita pun kembali ingat bagaimana cara kita
mendapat luka itu; rasa malu ketika terjatuh, rasa sakit ketika berdarah, dan
rasa perih ketika luka itu diobati.
Segalanya tak
lagi sama sejak kita terlanjur terluka.
Nuraniku kemudian
terusik, memprotes “separuhnya” yang pendendam itu.
Wednesday, 10 July 2013
April : Jarak
Belum genap seminggu sejak malam minggu kita yang terakhir.
Sabtu, hari
kita melepas rindu.
Sabtu,
waktu kita mencuri cumbu.
Sabtu,
ketika kita belum tahu.
Bahwa atas
nama masa depan, kamu sementara pergi.
Mengejar
mimpimu. Menjelang hari yang
memaksamu bangun pagi.
Katamu, aku mesti
tunggu.
Dan kata mereka,
tak bijaksana jika aku terus mengumbar haru.
Aku bilang aku cuma
melagu, nada-nada yang kuberi judul rindu.
Selebihnya, soal
cinta dan kata-kata semangat, sudah ku kemas dalam bingkisan yang hanya kamu
yang tahu. Ku kirim dengan paket kilat yang tak pernah sampai terlambat. Hingga
nanti, saat semua rasa tak perlu lagi kukemas, dan tersampaikan hanya lewat
peluk yang paling erat.
Saat kita bertemu
lagi, sayang.
Depok, 11 April 2013.
10.06 di tempatku. 12. 06 di tempatmu.
I miss you, Cil.
Maret : A Perfect Birthday
Entah harus bagaimana saya mengungkapkan rasa syukur di hari ulang tahun saya yang ke-22 ini. Tahun ini, hanya ada dua kata yang dapat mewakili gambaran hari ulang tahun saya ; manis dan utuh. Ini adalah kali pertama saya merayakan ulang tahun bersamanya, suatu hal yang saya inginkan selama ini. Hanya saja, ketika akhirnya benar-benar terwujud, saya tidak menyangka rasanya akan semenyenangkan ini :) Setelah kejutan manis yang ia berikan, ulang tahun kali ini juga dilengkapi dengan kehadiran sahabat-sahabat masa kecil saya. Orang-orang yang menyaksikan bagaimana saya bertambah dewasa setiap tahunnya dan paling mengenal saya. Saya rasa saya tidak ingin apa-apa lagi hari itu.
The surprise, the people, the flowers, and the gift that i get on my 22 birthday.......................... every single things. It's just perfect.
Alhamdulillahirabbilalamin :)
Februari : His Graduation Day
Saya bangga sekali ketika akhir tahun yang lalu ia memberi tahu saya tentang kelulusan dan nilai sangat memuaskan yang berhasil ia peroleh untuk skripsinya. Saya selalu menganggapnya pintar dan untuk itu saya mengaguminya. Kemudian ketika ia mengajak saya untuk turut hadir di wisudanya pada Februari lalu, saya sungguh bahagia :)
Di kemudian hari, saya menyadari bahwa kekaguman saya akan komitmennya soal pendidikan dan masa depan banyak mempengaruhi saya saat menyelesaikan skripsi saya sendiri. Ia adalah salah satu orang yang selalu membuat saya ingin menunjukan sisi terbaik dari diri saya, dan tidak mengizinkan diri saya untuk "kalah" darinya. Saya harap dapat selalu mendukungnya untuk banyak hal di depan sana dan tidak berhenti di hari kelulusannya.
Happy graduation, Love!
Di kemudian hari, saya menyadari bahwa kekaguman saya akan komitmennya soal pendidikan dan masa depan banyak mempengaruhi saya saat menyelesaikan skripsi saya sendiri. Ia adalah salah satu orang yang selalu membuat saya ingin menunjukan sisi terbaik dari diri saya, dan tidak mengizinkan diri saya untuk "kalah" darinya. Saya harap dapat selalu mendukungnya untuk banyak hal di depan sana dan tidak berhenti di hari kelulusannya.
Happy graduation, Love!
Subscribe to:
Posts (Atom)


