Tuesday, 18 June 2013

Januari : Kamu

Tahun ini, bulan ini, saya memulai segalanya dengan kamu. Terlambat? Mungkin saya lebih suka menyebutnya sebagai waktu yang tepat. Dengan segenap hati saya, saya berharap kita memang mengambil keputusan yang tepat. Tidak lagi terlewat. Seperti seharusnya.







Bulan ini segalanya tentang kamu, dan saya tidak keberatan. Selamat ulang tahun, Sayang :)

Desember 2012 : COSMO Girl! of the Year 2012

Bulan ini saya melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu "saya banget". Beberapa bulan sebelumnya, karena semester ini merupakan semester ke tujuh dari perkuliahan saya, waktu yang saya miliki terbilang cukup luang. Tidak ada lagi kuliah jam 8 pagi dan tumpukan tugas dan ujian yang menggila. Bahkan kuliah saya semester ini hanya berlangsung dari bulan September - November. Kalau saja saya tidak terikat dengan kepanitiaan dalam dua acara jurusan, rasanya saya patut disebut pengangguran. Kegiatan yang hampir tidak ada, keinginan yang banyak, dan uang jajan yang tidak kunjung bertambah memotivasi saya untuk mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan sebuah majalah remaja. CosmoGirl! atau saya sebut saja sebagai CG!.

Yang dicari dari ajang ini adalah seorang remaja perempuan yang dianggap mewakili karakter seorang CosmoGirl! yaitu mereka yang (konon katanya) memiliki semangat Born to Lead! hehehe, silahkan menilai sendiri apakah saya cukup layak atau tidak. Syaratnya cukup mudah, hanya mengirimkan foto dari beberapa angle berbeda dan menuliskan essai pendek mengenai impian saya dan mengapa saya layak menjadi seorang CosmoGirl! Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi oleh pihak majalah tersebut untuk pemotretan semi finalis dan juga wawancara dengan kepala redaksi.

Wah.

Dua minggu setelah pemotretan dan wawancara itu saya kembali dihubungi. Katanya saya lolos jadi 10 Finalis.

Wah. Saya melongo.

Bukannya tidak senang dan tidak percaya diri lho, saya hanya tidak menyangka mengingat beberapa peserta lain yang saya temui saat wawancara tempo hari terlihat cantik dan cerdas. Dan lebih muda. Entah apa, tapi rasanya redaksi melihat kualitas yang saya miliki. jadilah saya finalis ajang CGOTY 2012 bersama sembilan peserta lainnya. Sebagian sudah kuliah, sebagian masih SMA, dan satu anak bahkan masih SMP dan seumur adik saya hehehe.

Pada bulan Desember saya dan finalis lainnya menjalani masa karantina selama empat hari tiga malam. Saya tidak pernah menyangka akan mengalami pengalaman karantina seperti ini. Pengalamannya tentu saja luar biasa; agenda hari pertama adalah belanja sampai gila. Produk sponsor. Gratis. Menyenangkan. Hari berikutnya workshop mengenai berebagai hal yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas diri sebagai seorang CGOTY. Secara umum menyenangkan, saya suka belajar hal baru, dan pengalaman hari ini mengajarkan saya bahwa, saya dan dunia modeling bukanlah pasangan yang serasi. Satu-satunya aktivitas yang membuat saya hampir gila. Keesokan harinya, menjalani dua sesi pemotretan untuk rubrik fashion dan profil finalis di Majalah CG! yang diakhiri dengan acara penjurian. Sedangkan hari terakhir adalah acara grand final  di Gandaria City yang dihadiri oleh orang-orang terdekat saya. BANYAK SEKALI dan sungguh mengharukan. 

Pada akhirnya saya tidak menang hehehe, bukan masalah, saya tidak terlalu berambisi. Meski terdengar klise tapi saya sungguh menikmati pengalaman yang saya dapat. Demikian pula para teman-teman baru yang saya temui :)

Cosmo Girls! of the Year 2012

Monday, 17 June 2013

Kembali

Bagaimana harus menebus "dosa" absen menulis selama berbulan-bulan yang saya lakukan? Saya bahkan tak dapat mengingat tulisan terakhir saya diposkan pada bulan apa. Setelah berbulan-bulan terbebani dengan kewajiban menyelesaikan naskah akademis, membuat waktu dan pikiran saya tersita, sangat. Tentu saja saya rindu berpikir lebih romantis, menulis lebih puitis. Apalagi ada banyak hal yang sesungguhnya ingin saya ceritakan....

Beberapa bulan ini... Luar biasa. Tidak kurang dari itu.

Saya harus mulai dari mana untuk menuturkan rasa yang ingin saya tunjukan pada seluruh dunia?

Mungkin dari sini. Dari "kembali'.

Tuesday, 5 March 2013

Things I Never Said


Saya masih ingat ketika malam itu kita berbincang di kedai bubur yang biasa. Kamu menyesap teh panas tanpa gulamu, dan saya menceritakan kisah saya dengan intonasi campur aduk. Api kemarahan yang meletup kemudian bergantian dengan desah putus asa. Ada air mata yang tertahan untuk jatuh. Bukan karena saya tak ingin menumpahkannya, tetapi karena saya terlalu frustasi untuk sekedar menangis.

Kamu mendengarkan dengan sabar, kamu bilang kamu mengerti. Kamu mencoba menganalisa cerita saya tentangnya sambil membandingkannya dengan kisahmu sendiri.

“Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai,” ungkapmu asal—atau tidak. Namun cukup untuk membuat saya tertegun pada saat itu. Merasa tertampar. Memandang kosong ke seberang jalan Margonda dari tempat duduk saya di kedai bubur itu. Menyaksikan lalu lintasnya yang ramai, seperti katamu. Bahkan setelah dia melukai hati saya. Bahkan ketika saya sudah mengeluarkannya dari dalam hidup saya.

Saya menemukan kebenaran dalam ujaranmu. Beberapa bulan yang lalu.

Ketika kita masih terhubung. Ketika kamu dan saya masih duduk berhadapan di meja di kedai bubur yang biasa. Untuk sekedar menggunjingkan orang-orang yang kita kenal, atau yang hanya sekedar lewat. Atau yang lebih serius—membagi ide dan rencana hingga larut.

Ketika itu saya tidak bisa membayangkan kita berada dalam situasi seperti hari ini.

Seperti bagaimana kamu tidak lagi memandang saya dengan senyum kekanakanmu yang biasa. Seperti bagaimana kamu tidak lagi mengajak saya makan pagi atau mengantar saya pulang sampai gerbang. Seperti bagaimana kini saya dan kamu masih mengunjungi kedai bubur yang biasa tapi tak pernah lagi bersama-sama.

Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai.

Yang saya tidak pernah bilang, ada luka tak tertanggungkan ketika ia tak ada. Ada sesak tak terlukiskan ketika saya tahu ia bersama orang selain saya. Ada doa yang tidak terhenti—berharap ia berubah dan kembali lagi kepada saya seperti saat ini.

Dan kamu marah untuk kebahagiaan yang saya miliki bersamanya. Kebahagiaan yang mungkin salah. Kebahagiaan yang menurut kamu gila. Kebahagiaan yang saya harap tidak berakhir.

Saya tidak berharap kamu mengerti.

Monday, 19 November 2012

Tjikini, Kedai Manis di Pusat kota

Sekitar dua minggu yang lalu, gue kembali melakukan aktivitas random. Kali ini didampingi oleh salah satu sahabat gue, Tiza, yang menjadi pencetus dari acara kali ini. Jadi ceritanya, setelah beberapa waktu gak ketemu, Tiza mengajak gue jalan-jalan ke Planetarium. IYA, PLANETARIUM YANG ITU. Bangunan beratap kubah tempat lo bisa menyaksikan pertunjukan tentang bintang-bintang. Walaupun terdengar agak kekanakan, tapi selama 21 tahun hidup di Jakarta, dan melalui masa kecil bersama, gue dan Tiza sama-sama belum pernah ke Planetarium. Jadilah, dua gadis ibukota ini berakhir pekan ke sana.

Kunjungan ke Planetarium berakhir dengan Tiza yang kegirangan, dan gue yang sakit leher (karena harus mendongak ke atas selama menyaksikan pertunjukan). Namun, yang asyik justru kegiatan sepulang dari Planetarium itu. Apalagi kalau bukan makan!

Masih satu jalan dengan Planetarium, gue dan Tiza mampir ke Kedai Tjikini. Sesuai dengan namanya, kedai tersebut memang terletak di Jalan Cikini Raya No.17, Jakarta. Kedai yang gue pilih secara asal-asalan itu (gue baru lihat kedai ini di perjalanan menuju Planetarium dengan bajaj), ternyataaaaaa……………………. Sangat memuaskan! Seenggaknya gue sama Tiza ngerasa mampir ke sana adalah pilihan yang tepat, karena kedai ini memang menarik banget.
Dimulai dari interiornya yang dibuat bernuansa Indonesia tempo doeloe, lengkap dengan dominasi furnitur kayu dan pencahayaan lampu temaram yang membuat kedai ini terasa sangat cozy. Apalagi suasana seusai hujan membuat sore hari di Kedai Tjikini semakin nyaman. Untuk menu makanannya sendiri, kedai ini mengusung makanan Indonesia, meskipun ada beberapa pilihan menu western untuk camilan. Ketika pesanan gue dan Tiza datang, rasanya juga enak!



Dekorasi Antik!


Nasi Goreng Balacan
Gue memesan Nasi Goreng Balacan sedangkan Tiza memasan Roti Bakar. Soal harga, gue rasa tergolong standar, 30-50 ribu untuk main course dan 18-30 ribu untuk sides dan desserts. Sebandinglah untuk memperoleh makanan enak dan suasana yang nyaman! Gue sangat merekomendasikan kedai ini sebagai alternatif tempat kencan atau sekedar duduk-duduk cantik dengan suasana tenang. Apalagi buat lo yang sudah bosan jalan-jalan ke mall atau mengunjungi kafe di daerah pusat pergaulan seperti Kemang, Kedai Tjikini akan menjadi pilihan yang oke.

Bagian favorit gue dari melakukan aktivitas random adalah hal-hal seperti ini. Menemukan hal-hal baru yang menyenangkan ketika lo tidak mencari dan tidak mengharapkan apa-apa :)

Selamat mencoba!
Random Afternoon at Random Place :)