Saturday, 7 September 2013

Untuk Siapa?

Pagi ini saya berangkat menuju kantor dengan sedikit terlambat. Tentu saja akibatnya saya harus menghadapi beberapa "efek samping"; armada bus yang belum tiba, jalanan yang lebih macet, dan tidak kebagian tempat duduk di dalam bus. Ketika akhirnya sampai di tempat saya seharusnya turun, saya bergegas sambil mendekap tas. Takut dicopet.

Maklum saja, kebetulan kantor saya terletak di daerah yang tidak begitu elit (saya mencoba mencari padanan kata lain untuk "kumuh"). Biasanya setiap kali turun dari bus umum dan menyeberang ke arah kantor, saya selalu berjalan terburu-buru. Alasannya karena di sepanjang jalan--dari tempat saya turun bis hingga mencapai kantor--yang jaraknya tak sampai satu kilometer itu, berjejerlah pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai hal. Mulai dari gorengan, bakso, rokok, pulsa, peralatan rumah tangga, hingga penjual telepon seluler bekas yang saya yakini memperoleh barangnya dari menadah hasil copetan. Saya harus mempercepat langkah sebelum jengah mendengar celetukan usil dari para pedagang (dan preman-preman) tersebut, "Siang amat neng datengnya?", "Baru ya? Kok belum pernah keliatan?", atau "Sini neng, abang anter aja besok-besok.".

Hari ini pun, saya sudah siap berjalan dengan cepat agar bisa segera melalui jejeran pedagang itu. Namun kali ini ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya tidak ada celetukan usil dari para preman dan pedagang kaki lima. Trotoar pun bersih dari aneka dagangan. Tak jauh dari jalan itu, terparkir mobil bak bertuliskan "SATPOL PP". Sementara segerombol petugas berseragam berkumpul tak jauh dari mobil bak mereka.

Sambil meneruskan langkah menuju kantor, saya mencibir dalam hati. Tinggal tunggu waktu hingga para pedagang yang ditertibkan kembali berjejer di jalan depan kantor. Seringkali saya bertanya, untuk apa razia dan penertiban pedagang itu dilakukan. Ketertiban itu sebenarnya diwujudkan atas dasar apa? Kenyamanan masyarakat? Tanggung jawab pekerjaan? Imbauan dari Bapak Gubernur?

Nanti sore atau esok pagi, para pedagang  sudah akan kembali lagi. Memadati trotoar tempatku berjalan kaki. Preman-preman juga akan kembali menggodaku. Kemudian satu-satunya dampak dari penertiban sesaat itu hanya membuat para pedagang rugi karena tidak bisa berdagang seperti biasa. Selain itu, paling-paling membuat teman-teman sekantorku mengeluh karena tidak bisa jajan gorengan.

Lalu semua penertiban "pura-pura" itu, untuk siapa?

Monday, 29 July 2013

Juni : Sarjana Muda

Akhirnya setelah kurang lebih empat bulan berkutat dengan text book, konsep dan teori, fieldwork, rutin bertemu pembimbing setidaknya seminggu sekali (dan segala drama yang disebabkan oleh pembimbing saya itu), hari yang saya nantikan datang juga. Hari yang menentukan hasil kerja saya selama beberapa bulan terakhir ini; hari sidang skripsi.

12 Juni 2012.

Semakin dekat dengan hari-H, saya merasa semakin tidak karuan. Excited, paranoid.... semua bercampur jadi satu. Saya merasa ingin hari itu cepat datang, dan di sisi lain saya juga khawatir setengah mati. Belum lagi berbagai persiapan yang seolah-sepele-tetapi-membuat-gila seperti ngeprint skripsi, mengurus peminjaman ruangan, menyiapkan snack, hingga membeli baju baru khusus untuk sidang (karena ternyata saya tidak punya baju formal). Orang lain mungkin tidak seheboh itu yaa, tetapi saya sungguh merasa hari itu adalah hari yang sangat penting, dan rasanya tidak mungkin kalau saya tidak mempersiapkan segalanya dengan maksimal. Masa-masa persiapan sidang ini tentu saja turut melibatkan orang-orang terdekat saya seperti Mama, pacar, dan para sahabat, untung saja mereka siap sedia membantu, hehe.


Setelah menghadapi dewan sidang, Endang P.Gularso, MA, Dr. J.Emmed M. Priyoharyono, M.A, M.Sc, dan Lidwina Inge Nurtjahyo, S.H., M.Si, akhirnya saya dnyatakan lulus sebagai sarjana!

Sarjana dan memperoleh nilai A!

Alhamdulillahirrabilalamiin.

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang meyempatkan diri untuk hadir pada hari penting saya. Terima kasih yang paling istimewa untuk Rizki Insani yang selalu mendampingi saya sejak skripsi ini masih berupa embrio dan segala bantuannya yang luar biasa :D

Mei : Naskah Akademis

Ada satu naskah yang sedemikian ingin saya selesaikan. Namanya skripsi. Satu syarat mutlak yang menentukan kelulusan saya dalam memperoleh gelar sarjana. Saya sudah memulainya sejak bulan Februari lalu, dan bulan Mei adalah tenggat waktu untuk menyelesaikannya. Ada banyak hal yang membuat semangat saya terbilang pasang-surut selama pengerjaan skripsi ini. Tidak bisa saya bilang sangat sulit, namun jelas sama sekali tidak mudah.

Untuk menyelesaikan pendidikan di program sarjana Antropologi ini, saya menyusun skripsi yang berjudul "Aturan Main Dalam Pergaulan Siswa SMAN 70 Jakarta".

Sebagai alumni sekolah tersebut, saya memang memilih bermain aman. Meski begitu, nyatanya di zona nyaman saya ini, segalanya tetap tak semulus yang saya bayangkan. Jika ada yang begitu menyita pikiran, tenaga, waktu, dan menjadi isi dalam doa-doa saya setiap hari sejak awal tahun ini, hal itu adalah harapan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Saya harap saya mampu.

Luka

Meyembuhkan dan menghilangkan bekas luka adalah dua hal yang berbeda.

Ketika darah sudah mengering dan koreng telah terkelupas, namun bekasnya masih tetap terlihat. Mungkin karena jaringan kulit baru yang tumbuh memiliki warna yang berbeda dengan kulit yang semula, atau mungkin bekas luka itu hanya menyisakan goresan kecil berwarna putih. Namun ketika kita melihatnya, bekas itu masih ada. Tidak hilang.

Seperti perkara memaafkan dan melupakan. Seringkali dengan enteng aku mendengar atau mengucapkan “Ya sudahlah” atau “Sudah aku maafkan”, tanpa kusadari konsekuensi di balik kalimat itu. Bagiku memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan hal-hal tidak mengenakan yang pernah terjadi pada diriku. Memaafkan berarti telah memaklumi, menerima, dan berdamai dengan mereka yang pernah melukai hatiku.

Namun sekelumit sisi gelap dari hati ini ternyata seringkali belum bisa melupakan. Ketika pola-pola yang serupa dengan situasi yang pernah ku alami terjadi, memori ini langsung mengidentifikasikannya dengan kejadian di masa lalu. Pikiranku pun terganggu. Hati ini berjengit ngilu. Sama halnya seperti ketika kita melihat bekas luka yang membuat kulit tak lagi sempurna, kita pun kembali ingat bagaimana cara kita mendapat luka itu; rasa malu ketika terjatuh, rasa sakit ketika berdarah, dan rasa perih ketika luka itu diobati.

Segalanya tak lagi sama sejak kita terlanjur terluka.

Nuraniku kemudian terusik, memprotes “separuhnya” yang pendendam itu.

“Separuhnya” yang ternyata masih berduka.

Wednesday, 10 July 2013

April : Jarak

Belum genap seminggu sejak malam minggu kita yang terakhir.
Sabtu, hari kita melepas rindu.
Sabtu, waktu kita mencuri cumbu.
Sabtu, ketika kita belum tahu.
Bahwa atas nama masa depan, kamu sementara pergi.
Mengejar mimpimu. Menjelang hari yang memaksamu bangun pagi.
Katamu, aku mesti tunggu.
Dan kata mereka, tak bijaksana jika aku terus mengumbar haru.

Aku bilang aku cuma melagu, nada-nada yang kuberi judul rindu.
Selebihnya, soal cinta dan kata-kata semangat, sudah ku kemas dalam bingkisan yang hanya kamu yang tahu. Ku kirim dengan paket kilat yang tak pernah sampai terlambat. Hingga nanti, saat semua rasa tak perlu lagi kukemas, dan tersampaikan hanya lewat peluk yang paling erat.

Saat kita bertemu lagi, sayang.

Depok, 11 April 2013.
10.06 di tempatku. 12. 06 di tempatmu.

I miss you, Cil.

Maret : A Perfect Birthday

Entah harus bagaimana saya mengungkapkan rasa syukur di hari ulang tahun saya yang ke-22 ini. Tahun ini, hanya ada dua kata yang dapat mewakili gambaran hari ulang tahun saya ; manis dan utuh. Ini adalah kali pertama saya merayakan ulang tahun bersamanya, suatu hal yang saya inginkan selama ini. Hanya saja, ketika akhirnya benar-benar terwujud, saya tidak menyangka rasanya akan semenyenangkan ini :) Setelah kejutan manis yang ia berikan, ulang tahun kali ini juga dilengkapi dengan kehadiran sahabat-sahabat masa kecil saya. Orang-orang yang menyaksikan bagaimana saya bertambah dewasa setiap tahunnya dan paling mengenal saya. Saya rasa saya tidak ingin apa-apa lagi hari itu.



The surprise, the people, the flowers, and the gift that i get on my 22 birthday.......................... every single things. It's just perfect.

Alhamdulillahirabbilalamin :)

Februari : His Graduation Day

Saya bangga sekali ketika akhir tahun yang lalu ia memberi tahu saya tentang kelulusan dan nilai sangat memuaskan yang berhasil ia peroleh untuk skripsinya. Saya selalu menganggapnya pintar dan untuk itu saya mengaguminya. Kemudian ketika ia mengajak saya untuk turut hadir di wisudanya pada Februari lalu, saya sungguh bahagia :)


Di kemudian hari, saya menyadari bahwa kekaguman saya akan komitmennya soal pendidikan dan masa depan banyak mempengaruhi saya saat menyelesaikan skripsi saya sendiri. Ia adalah salah satu orang yang selalu membuat saya ingin menunjukan sisi terbaik dari diri saya, dan tidak mengizinkan diri saya untuk "kalah" darinya. Saya harap dapat selalu mendukungnya untuk banyak hal di depan sana dan tidak berhenti di hari kelulusannya.

Happy graduation, Love!

Tuesday, 18 June 2013

Januari : Kamu

Tahun ini, bulan ini, saya memulai segalanya dengan kamu. Terlambat? Mungkin saya lebih suka menyebutnya sebagai waktu yang tepat. Dengan segenap hati saya, saya berharap kita memang mengambil keputusan yang tepat. Tidak lagi terlewat. Seperti seharusnya.







Bulan ini segalanya tentang kamu, dan saya tidak keberatan. Selamat ulang tahun, Sayang :)

Desember 2012 : COSMO Girl! of the Year 2012

Bulan ini saya melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu "saya banget". Beberapa bulan sebelumnya, karena semester ini merupakan semester ke tujuh dari perkuliahan saya, waktu yang saya miliki terbilang cukup luang. Tidak ada lagi kuliah jam 8 pagi dan tumpukan tugas dan ujian yang menggila. Bahkan kuliah saya semester ini hanya berlangsung dari bulan September - November. Kalau saja saya tidak terikat dengan kepanitiaan dalam dua acara jurusan, rasanya saya patut disebut pengangguran. Kegiatan yang hampir tidak ada, keinginan yang banyak, dan uang jajan yang tidak kunjung bertambah memotivasi saya untuk mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan sebuah majalah remaja. CosmoGirl! atau saya sebut saja sebagai CG!.

Yang dicari dari ajang ini adalah seorang remaja perempuan yang dianggap mewakili karakter seorang CosmoGirl! yaitu mereka yang (konon katanya) memiliki semangat Born to Lead! hehehe, silahkan menilai sendiri apakah saya cukup layak atau tidak. Syaratnya cukup mudah, hanya mengirimkan foto dari beberapa angle berbeda dan menuliskan essai pendek mengenai impian saya dan mengapa saya layak menjadi seorang CosmoGirl! Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi oleh pihak majalah tersebut untuk pemotretan semi finalis dan juga wawancara dengan kepala redaksi.

Wah.

Dua minggu setelah pemotretan dan wawancara itu saya kembali dihubungi. Katanya saya lolos jadi 10 Finalis.

Wah. Saya melongo.

Bukannya tidak senang dan tidak percaya diri lho, saya hanya tidak menyangka mengingat beberapa peserta lain yang saya temui saat wawancara tempo hari terlihat cantik dan cerdas. Dan lebih muda. Entah apa, tapi rasanya redaksi melihat kualitas yang saya miliki. jadilah saya finalis ajang CGOTY 2012 bersama sembilan peserta lainnya. Sebagian sudah kuliah, sebagian masih SMA, dan satu anak bahkan masih SMP dan seumur adik saya hehehe.

Pada bulan Desember saya dan finalis lainnya menjalani masa karantina selama empat hari tiga malam. Saya tidak pernah menyangka akan mengalami pengalaman karantina seperti ini. Pengalamannya tentu saja luar biasa; agenda hari pertama adalah belanja sampai gila. Produk sponsor. Gratis. Menyenangkan. Hari berikutnya workshop mengenai berebagai hal yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas diri sebagai seorang CGOTY. Secara umum menyenangkan, saya suka belajar hal baru, dan pengalaman hari ini mengajarkan saya bahwa, saya dan dunia modeling bukanlah pasangan yang serasi. Satu-satunya aktivitas yang membuat saya hampir gila. Keesokan harinya, menjalani dua sesi pemotretan untuk rubrik fashion dan profil finalis di Majalah CG! yang diakhiri dengan acara penjurian. Sedangkan hari terakhir adalah acara grand final  di Gandaria City yang dihadiri oleh orang-orang terdekat saya. BANYAK SEKALI dan sungguh mengharukan. 

Pada akhirnya saya tidak menang hehehe, bukan masalah, saya tidak terlalu berambisi. Meski terdengar klise tapi saya sungguh menikmati pengalaman yang saya dapat. Demikian pula para teman-teman baru yang saya temui :)

Cosmo Girls! of the Year 2012

Monday, 17 June 2013

Kembali

Bagaimana harus menebus "dosa" absen menulis selama berbulan-bulan yang saya lakukan? Saya bahkan tak dapat mengingat tulisan terakhir saya diposkan pada bulan apa. Setelah berbulan-bulan terbebani dengan kewajiban menyelesaikan naskah akademis, membuat waktu dan pikiran saya tersita, sangat. Tentu saja saya rindu berpikir lebih romantis, menulis lebih puitis. Apalagi ada banyak hal yang sesungguhnya ingin saya ceritakan....

Beberapa bulan ini... Luar biasa. Tidak kurang dari itu.

Saya harus mulai dari mana untuk menuturkan rasa yang ingin saya tunjukan pada seluruh dunia?

Mungkin dari sini. Dari "kembali'.

Tuesday, 5 March 2013

Things I Never Said


Saya masih ingat ketika malam itu kita berbincang di kedai bubur yang biasa. Kamu menyesap teh panas tanpa gulamu, dan saya menceritakan kisah saya dengan intonasi campur aduk. Api kemarahan yang meletup kemudian bergantian dengan desah putus asa. Ada air mata yang tertahan untuk jatuh. Bukan karena saya tak ingin menumpahkannya, tetapi karena saya terlalu frustasi untuk sekedar menangis.

Kamu mendengarkan dengan sabar, kamu bilang kamu mengerti. Kamu mencoba menganalisa cerita saya tentangnya sambil membandingkannya dengan kisahmu sendiri.

“Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai,” ungkapmu asal—atau tidak. Namun cukup untuk membuat saya tertegun pada saat itu. Merasa tertampar. Memandang kosong ke seberang jalan Margonda dari tempat duduk saya di kedai bubur itu. Menyaksikan lalu lintasnya yang ramai, seperti katamu. Bahkan setelah dia melukai hati saya. Bahkan ketika saya sudah mengeluarkannya dari dalam hidup saya.

Saya menemukan kebenaran dalam ujaranmu. Beberapa bulan yang lalu.

Ketika kita masih terhubung. Ketika kamu dan saya masih duduk berhadapan di meja di kedai bubur yang biasa. Untuk sekedar menggunjingkan orang-orang yang kita kenal, atau yang hanya sekedar lewat. Atau yang lebih serius—membagi ide dan rencana hingga larut.

Ketika itu saya tidak bisa membayangkan kita berada dalam situasi seperti hari ini.

Seperti bagaimana kamu tidak lagi memandang saya dengan senyum kekanakanmu yang biasa. Seperti bagaimana kamu tidak lagi mengajak saya makan pagi atau mengantar saya pulang sampai gerbang. Seperti bagaimana kini saya dan kamu masih mengunjungi kedai bubur yang biasa tapi tak pernah lagi bersama-sama.

Ada atau tidak ada dia, apa bedanya untuk kamu? Jalan Margonda akan tetap ramai.

Yang saya tidak pernah bilang, ada luka tak tertanggungkan ketika ia tak ada. Ada sesak tak terlukiskan ketika saya tahu ia bersama orang selain saya. Ada doa yang tidak terhenti—berharap ia berubah dan kembali lagi kepada saya seperti saat ini.

Dan kamu marah untuk kebahagiaan yang saya miliki bersamanya. Kebahagiaan yang mungkin salah. Kebahagiaan yang menurut kamu gila. Kebahagiaan yang saya harap tidak berakhir.

Saya tidak berharap kamu mengerti.

Monday, 19 November 2012

Tjikini, Kedai Manis di Pusat kota

Sekitar dua minggu yang lalu, gue kembali melakukan aktivitas random. Kali ini didampingi oleh salah satu sahabat gue, Tiza, yang menjadi pencetus dari acara kali ini. Jadi ceritanya, setelah beberapa waktu gak ketemu, Tiza mengajak gue jalan-jalan ke Planetarium. IYA, PLANETARIUM YANG ITU. Bangunan beratap kubah tempat lo bisa menyaksikan pertunjukan tentang bintang-bintang. Walaupun terdengar agak kekanakan, tapi selama 21 tahun hidup di Jakarta, dan melalui masa kecil bersama, gue dan Tiza sama-sama belum pernah ke Planetarium. Jadilah, dua gadis ibukota ini berakhir pekan ke sana.

Kunjungan ke Planetarium berakhir dengan Tiza yang kegirangan, dan gue yang sakit leher (karena harus mendongak ke atas selama menyaksikan pertunjukan). Namun, yang asyik justru kegiatan sepulang dari Planetarium itu. Apalagi kalau bukan makan!

Masih satu jalan dengan Planetarium, gue dan Tiza mampir ke Kedai Tjikini. Sesuai dengan namanya, kedai tersebut memang terletak di Jalan Cikini Raya No.17, Jakarta. Kedai yang gue pilih secara asal-asalan itu (gue baru lihat kedai ini di perjalanan menuju Planetarium dengan bajaj), ternyataaaaaa……………………. Sangat memuaskan! Seenggaknya gue sama Tiza ngerasa mampir ke sana adalah pilihan yang tepat, karena kedai ini memang menarik banget.
Dimulai dari interiornya yang dibuat bernuansa Indonesia tempo doeloe, lengkap dengan dominasi furnitur kayu dan pencahayaan lampu temaram yang membuat kedai ini terasa sangat cozy. Apalagi suasana seusai hujan membuat sore hari di Kedai Tjikini semakin nyaman. Untuk menu makanannya sendiri, kedai ini mengusung makanan Indonesia, meskipun ada beberapa pilihan menu western untuk camilan. Ketika pesanan gue dan Tiza datang, rasanya juga enak!



Dekorasi Antik!


Nasi Goreng Balacan
Gue memesan Nasi Goreng Balacan sedangkan Tiza memasan Roti Bakar. Soal harga, gue rasa tergolong standar, 30-50 ribu untuk main course dan 18-30 ribu untuk sides dan desserts. Sebandinglah untuk memperoleh makanan enak dan suasana yang nyaman! Gue sangat merekomendasikan kedai ini sebagai alternatif tempat kencan atau sekedar duduk-duduk cantik dengan suasana tenang. Apalagi buat lo yang sudah bosan jalan-jalan ke mall atau mengunjungi kafe di daerah pusat pergaulan seperti Kemang, Kedai Tjikini akan menjadi pilihan yang oke.

Bagian favorit gue dari melakukan aktivitas random adalah hal-hal seperti ini. Menemukan hal-hal baru yang menyenangkan ketika lo tidak mencari dan tidak mengharapkan apa-apa :)

Selamat mencoba!
Random Afternoon at Random Place :)

Wednesday, 12 September 2012

Love, Wedding, Marriage


Lama ngga ngeblog dan tiba-tiba gue pengen memberi nuansa baru pada blog gue yang ‘tumbuh-kembang’-nya rada lambat ini. Gue pengen aja gitu nulis ide, perasaan, dan pemikiran gue dengan cara yang lebih kasual dan personal. Lebih talkative kali yah kalau boleh diistilahkan. Jadi mungkin gue akan mengambil tema yang lebih random—apa aja yang melintas dipikiran gue—walaupun itu gak jelas penting atau nggak hehe. Kayak post gue kali ini.

Love, Wedding, Marrige.

Merasa familiar dengan judul ini? Wajarlah ya, secara gue emang copas judul ini dari filmnya Mandy Moore yang gue tonton gak sengaja di TV kabel hehehe (gue paling gak bisa ngasih judul emang).

Memasuki usia twenty something, gue rasa makin banyak aja orang di sekitar gue yang mulai mikirin soal abis lulus mau ngapain. Yaa mungkin emang udah masanya kali yah mengingat INSYAALLAH kuliah bakal segera kelar (AMIN YA ALLAH). Apa sih rencana lo setelah itu? Lanjut S2, kerja, atau nikah? Gue rasa itu tiga jawaban yang paling sering keluar. Dan buat hal yang ketiga, banyak banget—cewek khususnya—yang udah mulai galau mikirinnya hehehe. Tiap dateng ke acara kawinan langsung gundah gulana, atau minamal ngayal ngerencanain nikahan lo nanti bakal gimana hehehe. Ada yang galaunya terang-terangan, ada juga yang sok lempeng kayak gue dengan jawab, “S2 dulu kali,” hehehe tapi sih padahal dalemnya kepikiran juga :p

Kenapa sih soal nikah ini sepertinya penting banget jadi pikiran cewek seumuran gue? Gue bakal coba memaparkan alasan yang gue dapet, entah dari hasil mikir-mikir sendiri ataupun sharing sama beberapa temen. Pertama, buat sebagian orang, hidup itu semacam punya ‘stage’nya sendiri, kayak TK-SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya Anak-Ngebesarin Anak-Punya Cucu-Tua-Mati. So, pernikahan sendiri adalah satu bagian dari tingkatan itu. Makanya begitu beres kuliah, otomatis lo akan nentuin mau nikah atau kerja. Dan kalau salah satunya belum tercapai maka lo bakal kelabakan. Kenapa? Karena para penganut alasan pertama ini kalau belum mencapai jenjang kehidupan berikutnya bakal ngerasa hidupnya  incompelete, kayak gak naik kelas kira-kira rasanya.

Alasan kedua—yang menurut gue nyebelin—adalah tuntutan sosial. Berhubung kita ini tinggal di negara yang mayoritas penduduknya super kepo-resek-dan-hobi-ikut-campur-urusan-orang, seringkali hal-hal yang sebenarnya merupakan ranah pribadi seperti pernikahan, pada akhirnya menjadi urusan orang banyak alias menjadi tuntutan sosial. Tuntutan ini diwujudkan melalui pertanyaan “kapan nikah?” atau “siapa calonnya?” yang diajukan dalam berbagai kesempatan. Yang mana jika lo tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan realisasi (baca: nikah beneran) maka lo akan mendapat sanksi sosial berupa pandangan/sindiran/candaan soal label “perawan tua” atau “nggak laku” yang seolah ditempelin di jidat lo. Oh, shit. Jelas aja pada galau, siapa juga yang mau dianggap kayak gitu.

Alasan berikutnya yang lebih konservatif—tapi sedikit banyak gue setuju—adalah alasan religius seperti ajaran agama, menghindari zinah dan semacamnya. Mungkin karena gue sendiri adalah muslim yang memang diajarkan bahwa seks pra-nikah itu dosa kali yah, makanya sedikit banyak gue setuju atau setidaknya gue memahami orang-orang yang menikah dengan alasan ini. Walaupun kalau dipikir-pikir, nikah-supaya-nggak-zinah ini agak berkesan “Oh yaudah, gue menikah untuk melegalisasi aktivitas seksual / kebutuhan biologis gue sama pasangan gue” tapi ya menurut gue mendinglah, daripada lo ngaku Islam, solat jalan, puasa iya, lebaran ikutan, tapi ml dimana-mana juga. Yaudah sok atuh mending nikah aja yah hehehe :D


Ada yang merasa setuju dengan alasan-alasan yang tadi gue paparkan? Tertohok? Makin galau? Heheheh sama, sebenernya gue ngeblog gini biar nularin galau aja kali ke yang baca, biar gak galau sendirian. Ada juga alasan lain untuk nikah seperti misalnya mencari kehidupan yang lebih baik (buset udah kayak alasan nyari kerja!), ‘kecelakaan’ dll dsb, Tapi nih ya menurut gue lagi, alasan-alasan tadi gak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling mempengaruhi satu sama lain dan semakin menekan lo buat mikirin soal pernikahan. Ya wajarlah kalau terus lo jadi kepikiran.

Di sisi lain, pernikahan sama sekali bukan hal yang mudah. Sebutlah gue ini sotoy karena gue sendiri belum pernah nikah dan bahkan gue lagi gak menjalin hubungan serius dengan siapapun saat ini (sok panjang, padahal intinya jomblo). But believe me, I’ve read a lot. Selain itu gue juga cukup banyak mendengar curhatan orang soal percintaan, bahkan orang yang udah nikah pun curhatnya ke gue! *stress*

Ada banyak hal yang bikin pernikahan itu sama sekali gak mudah. Belum ketemu jodohnya, finansial, keluarga. Macem-macemlah, dan semuanya itu gak bisa diabaikan kecuali lo emang cinta buta ya. Dan please gue harap jangan ada yang mengajukan alasan cinta doang buat nikah gini hari! Bukannya gue bilang cinta itu gak penting ya, justru karena gue adalah orang yang sangat mengagung-agungkan cint`a, makanya gue bisa bilang bahwa cinta aja nggak cukup.

Di antara semua alasan, sebaik-baiknya alasan untuk seseorang menikah (menurut gue) dan gue harap akan menjadi alasan ketika gue memutuskan untuk menikah suatu hari nanti adalah keyakinan (translation: faith). Keyakinan yang gue maksud disini adalah ketika cinta bertemu dengan kesiapan. Kenapa cinta dan kesiapan gue rangkum dalam istilah keyakinan? Karena menurut gue cinta adalah keyakinan atas perasaan lo sendiri (internal) dan kesiapan adalah keyakinan lo atas kemampuan lo dan pasangan untuk bisa memenuhi ‘syarat-syarat’ eksternal seperti persetujuan keluarga, kemampuan finansial, dll. Kalau lo udah punya keyakinan itu, gue rasa lo udah punya alasan yang logis untuk menikah.

Btw, salah satu alasan gue gatel ngepost topik ini juga karena salah satu ketakutan terbesar gue dalam hidup ini selain kecoak, jatuh miskin, dan masuk neraka adalah, gue takut banget hidup dalam unhappy marriage life and I don’t wanna get divorce in my whole life. Ini serius lho. Gue amat sangat takut salah memilih orang untuk dinikahi dan gue takut merasa tidak bahagia dalam pernikahan gue dan gue nggak pengen bercerai. Deep inside of me gue ini tipikal perempuan menikah banget, walaupun kemampuan gue akan pekerjaan domestik bisa dibilang nol besar hehehe. Hal ini berkaitan sama alasan pernikahan yang lain (lagi-lagi menurut gue loh ya), soalnya manusia itu takut kesepian dan takut sama kesendirian. Seenjoy-enjoynya lo sama kehidupan lo gue yakin lo akan sampai pada titik lo ngerasa butuh untuk ‘pulang’. Dan ‘pulang’ disini gak mengacu kepada suatu tempat, tapi ke sebuah perasaan. Lo butuh orang-orang yang bisa lo sebut keluarga, dan pernikahan adalah sarana buat lo mewujudkan keluarga itu (selama living together alias kumpul kebo masih didaulat sebagai zinah ya hehehe). Bayangin kalau lo menghabiskan sisa hidup lo sama orang yang salah dan bikin lo ga pernah ngerasa ‘pulang’. Itu ketakutan terbesar gue. And yeah, eventhough I always feel like a bittersweet bitch, I believe in true love.

Eeeehhh tapi, gue tidak mendiskreditkan orang-orang yang memilih melajang atau bercerai lho. Karena menurut gue dalam setiap pilihan yang diambil seseorang terdapat keberanian di dalamnya, dan pastinya didasari oleh experience pribadi yang akhirnya membentuk keputusan soal pilihan itu. Jadi selama orang itu happy sama pilihannya menurut gue sah-sah aja :D

Eh yaudah deh daripada makin ngelantur ya, gue kan Cuma sharing pemikiran gue doang. Tulisan ini gue tulis di usia gue yang ke-21 tahun 5 bulan 12 hari, and maybe it sounds naïve. Bodolah yaa, namanya juga anak muda. Bulan depan juga bisa berubah hehe.

Thanks for reading anyway.


Monday, 16 July 2012

Happy (Belated) Birthday CACA!



HAPPY BELATED BIRTHDAY MY VERY BEST FRIEND ANNAYU CACA MAHARANI!!!!!!

Hari ini, ketika akhirnya gue sempet ngetik tulisan ini, ulang tahun Caca udah lewat 25 hari. Omoooo, hampir sebulan dan gue bisa-bisanya baru nulis ini buat  dia. Buat ulang tahun sahabat gue!!! Semoga setelah ini gue masih dianggap sahabat sama Caca :’( *drama*

Mungkin realisasinya emang udah telat banget, tapi percaya deh kalau niat buat nulis satu post khusus di blog gue untuk bercerita tentang lo adalah satu niat yang emang udah lama banget ada. Cuma biar lebih berkesan, ceritanya gue nunggu momen ulang tahun lo dulu, yah apa daya ternyata momennya keburu kelewat juga hehe.

So, here we go… gue mau nulis tentang sahabat gue yang ter-paling-amat-sangat dekat ini.

Namanya Annisa Ayu Maharani, lahir pada tanggal 21 Juni, 21 tahun yang lalu dari pasangan Mama Caca dan Ayah Caca (karena gue gak tau nama bokap nyokap lo ca L). Kemudian untuk menyingkat namanya yang panjang, cukuplah ia dikenal dengan Caca. Caca tumbuh menjadi anak yang aktif dan gemar berolahraga hahah apa sih. Tapi bener lho Caca nih atlet berat pokoknya. Mengenyam pendidikan di SD Yasporbi, SMPN 12 Jakarta, kemudian SMAN 70 Jakarta. Nah, waktu sekolah di 70 inilah gue dan Caca berkenalan pertama kali, karena kebetulan kita sekelas pas jaman utas (kelas satu). Walaupun sekelas, gue sama Caca sebenernya ga terlalu main bareng. Saat itu gue masih lebih sering main sama temen-temen SMP gue yang kesebar di kelas lain dan Caca main bareng sama beberapa anak kelas. Masih pas kelas satu juga, gue tau saat itu nyokapnya caca lagi sakit parah dan gak lama beliau meninggal. Waktu itu tuh gue mulai mengobrol lebih dalam sama Caca.

Gara-garanya sih gue waktu itu disuruh ngasih titipan belasungkawa dari anak-anak kelas buat Caca, trus ngobrol deh jadinya. Gue gak tau sih lo masih inget atau nggak Ca, tapi waktu itu kita pernah ngobrol di mushola 70, pas jam solat dhuha (cailaaaahhh, jaman iman kita masih tebel banget tuh bay hahahah). Waktu itu Caca cerita tentang nyokapnya yang udah lama sakit, orang tuanya yang udah pisah, tentang tantenya yang serumah sama dia dan nyokapnya, dan yang paling gue inget Caca ngomong gini “Kalau buat orang-orang, di rumah tuh waktunya mereka istirahat, kalau buat gue, justru ke sekolah itu saatnya gue liburan, karena kalau di rumah banyak banget yang harus gue urusin”. Langsung kan denger semua cerita Caca, gue bercucur air mata, soalnya gue paling iba kalau denger-denger soal drama keluarga gitu, hahahha.

Setelah itu gue mulai sering ngobrol sama Caca, walaupun belum deket-deket banget sih. Makin hari gue makin suka sama profilnya Caca, kecil, lucu, ke sekolah dengan baju rada kusut dan muka ngantuk, anak cheers tapi cenderung keker daripada centil, cuek, kemana-mana naik bis, dan dari ratusan anak 70 yang terobsesi banget pengen masuk jurusan IPA, gue sama Caca justru sama sekali ga minat dan lebih milih jadi anak IPS (padahal nilai kita berdua memenuhi syarat buat masuk IPA loh *sombong*)! Kelas dua, gue sama Caca pisah kelas. Tapi karena sekarang Caca tinggal di rumah tantenya di Ciledug, kita malah jadi sering pulang bareng. Pas kelas tiga, gue sama Caca sekelas lagi dan jadi satu peer group. Di sini kita mulai makin deket, apalagi masa-masa persiapan tes masuk perguruan tinggi, jatuh bangun bareng bangetlah haha.
Coret-coretan Jaman SMA
Wisuda SMA
Akhirnya setelah lulus SMA. Caca diterima di Jurusan Sastra Belanda, FIB UI, sedangkan gue masuk jurusan Antropologi, FISIP UI. Seneng banget sih waktu itu, akhirnya bisa punya jakun bareng, walaupun beda makara. Kita pun akhirnya ngekos bareng, satu kamar berdua. Sampe sekarang. Memasuki tahun keempat kuliah. Di usia kita yang menginjak 21tahun. Yang berarti juga, udah hampir enam tahun sejak gue dan Caca saling kenal. MAN, TIME FLIES!!!

Sejak kuliah, bisa dibilang Caca adalah sahabat terdekat gue. Baik secara emosional maupun secara kita tinggal satu kosan hahaha. Banyak banget yang udah kita lewatin bareng-bareng. Hal-hal normal sampe abnormal. Mulai dari galau akademis, sampe galau finansial. Mulai dari bercanda jorok sampe nangis kejer. Dari curhat gebetan, pacar, selingkuhan, lipiran, kayaknya udah pernah semua, HAHAHAH. Ada kalanya kita berdua sibuk masing-masing dan jarang pulang ke kosan. Ada kalanya kita terlalu ribet sama tugas, sampe akhirnya ada di satu kamar tapi ga ngomong dan tenggelam dalam dunianya sendiri-sendiri. Ada masanya kamar kita berantakan kayak kapal pecah, ada kalanya kita kerja bakti jadi upik abu. Semuanya udah gue sama Caca alamin.

Dan entah kenapa kita berdua seklop itu.

Walaupun gue menye dan Caca cuek. Walaupun Caca nonton gigs dan gue nonton drama korea. Walaupun temen-temen main gue sama Caca di kampus beda 180 derajat. Walaupun Caca rokoknya Djarum Super sedangkan gue malah asma! HAHAHAHAHAH. Yang pasti Caca adalah sahabat terbaik dan terdekat gue yang tau semua cerita gue sekonyol dan se-gak-penting apapun. Caca adalah orang yang pernah ngeliat gue di titik terendah sampe udah gatau mesti ketawa apa nangis. Mesti nyilet nadi apa minum baygon, huahahah ngga deng.

Hang out Pas Kuliah
Anyway, what i'm trying to say is………………..

I’M THE LUCKIEST GIRL TO HAVE A FRIEND SISTER LIKE YOU CA!

Sering dikira Adik-Kakak, mirip ngga sih? 
SELAMAT TANGGAL 21 YANG KE-21! :D